Pernah nggak sih kamu ngerasa mentok di bagian skripsi cuma gara-gara bingung mulai dari mana? Terutama pas sampai di tahap bikin tinjauan pustaka—bagian yang katanya “formalitas” tapi ternyata justru jadi fondasi penelitian kamu. Banyak mahasiswa yang baru nyadar kalau tinjauan pustaka itu bukan sekadar kumpulan teori atau hasil copas dari jurnal, tapi bagian penting yang bakal menentukan seberapa kuat arah penelitianmu.
Nah, di artikel ini kita bakal kupas cara membuat tinjauan pustaka dari nol sampai jadi, lengkap dengan tips, langkah, dan contoh biar kamu nggak cuma paham konsepnya, tapi juga bisa langsung praktik. Kita juga bakal bahas kenapa tinjauan pustaka itu krusial banget, bagaimana memilih sumber yang tepat, cara menghindari plagiarisme, dan bagaimana menyusunnya biar terlihat rapi, logis, dan “disukai” dosen pembimbing.
Kalau kamu lagi cari panduan yang nggak cuma teoritis tapi juga praktis, baca artikel ini sampai habis. Kita akan bahas step-by-step mulai dari definisi, fungsi, sampai trik biar tinjauan pustaka kamu bukan cuma syarat skripsi, tapi jadi karya yang bikin penelitianmu terlihat solid di mata penguji.
Daftar Isi
ToggleApa Itu Tinjauan Pustaka?
Sebelum masuk ke teknis cara buat tinjauan pustaka, kamu wajib ngerti dulu apa sih sebenarnya bagian ini. Dalam dunia akademik, tinjauan pustaka (literature review) adalah rangkuman, analisis, dan sintesis dari literatur yang relevan dengan topik penelitian yang sedang kamu kerjakan. Literatur ini bisa berupa buku, jurnal ilmiah, artikel konferensi, laporan penelitian, sampai sumber-sumber akademik online yang kredibel.
Fungsi utamanya adalah untuk memetakan apa saja yang sudah dibahas orang lain terkait topikmu, mana yang belum dibahas, dan bagaimana penelitianmu bisa mengisi celah (research gap) tersebut. Jadi, kalau tinjauan pustakamu asal-asalan, otomatis penelitianmu akan kelihatan kurang punya arah.
Bayangin aja, kamu lagi mau bangun rumah. Tinjauan pustaka itu ibarat fondasi dan blueprint-nya. Kalau fondasinya goyah, rumahnya gampang roboh. Kalau blueprint-nya nggak jelas, tukang bakal bingung mau mulai dari mana.
Makanya, dalam penulisan skripsi, tesis, atau disertasi, bagian ini bukan sekadar formalitas. Dia adalah “jantung” dari kerangka teori dan argumen penelitianmu.
Fungsi Tinjauan Pustaka
Nah, sekarang kita masuk ke pembahasan penting: fungsi tinjauan pustaka. Banyak mahasiswa yang salah kaprah menganggap ini cuma “pajangan” atau sekadar mengisi bab 2. Padahal, ada banyak fungsi krusial yang bikin bagian ini harus kamu kerjakan dengan serius.
- Menunjukkan Pemahaman Terhadap Topik Penelitian
Tinjauan pustaka adalah bukti kalau kamu benar-benar paham dengan bidang yang sedang kamu teliti. Dosen pembimbing dan penguji bisa langsung tahu seberapa dalam kamu menguasai materi hanya dengan membaca bagian ini. Semakin komprehensif dan relevan isi tinjauan pustaka, semakin kredibel penelitianmu di mata akademisi. - Mengidentifikasi Research Gap
Dari literatur yang kamu baca, kamu bisa menemukan celah penelitian yang belum banyak dibahas atau bahkan belum pernah disentuh. Celah inilah yang akan jadi “nilai jual” penelitianmu. Kalau kamu bisa menunjukkan gap ini dengan jelas, penelitianmu akan terlihat punya kontribusi nyata. - Memperkuat Kerangka Teori
Semua penelitian butuh kerangka teori sebagai pondasi. Tinjauan pustaka membantumu membangun kerangka ini dengan menggabungkan teori-teori yang relevan dan membuktikan bahwa pendekatan yang kamu ambil punya dasar ilmiah yang kuat. - Menghindari Plagiarisme dan Duplikasi Penelitian
Dengan mempelajari penelitian terdahulu, kamu bisa memastikan penelitianmu tidak sekadar mengulang studi yang sudah ada. Ini penting untuk menjaga orisinalitas dan novelty dari penelitianmu. - Memberikan Justifikasi Metodologi
Dari literatur yang kamu telaah, kamu bisa menunjukkan bahwa metode yang kamu pilih sudah terbukti relevan dan efektif digunakan dalam penelitian sejenis. Hal ini akan memperkuat alasan kenapa kamu memilih metode tersebut.
Kalau lima fungsi ini kamu pegang teguh, tinjauan pustaka yang kamu susun akan jauh dari kesan “copy-paste” dan benar-benar jadi bagian yang memperkaya penelitianmu.
Fungsi Tinjauan Pustaka dalam Penelitian

Kalau di bagian sebelumnya kita sudah bahas definisi tinjauan pustaka, sekarang kita bahas kenapa bagian ini nggak boleh disepelekan. Banyak mahasiswa yang menganggap tinjauan pustaka cuma formalitas untuk memenuhi syarat skripsi, padahal fungsinya jauh lebih penting daripada itu.
1. Menunjukkan Pemahaman yang Mendalam terhadap Topik
Tinjauan pustaka itu ibarat cara kamu nunjukkin ke dosen pembimbing dan penguji bahwa kamu paham betul topik yang kamu angkat. Di sini, kamu memperlihatkan kalau kamu sudah membaca, mempelajari, dan menganalisis literatur yang relevan.
Bayangkan kalau kamu mau bikin skripsi tentang pengaruh media sosial terhadap kecemasan akademik mahasiswa tapi ternyata kamu cuma pakai dua referensi dan semuanya blog pribadi. Bisa-bisa dosen langsung mempertanyakan validitas penelitianmu.
Dengan mengumpulkan referensi dari jurnal ilmiah yang kredibel, kamu menunjukkan kalau penelitianmu punya pondasi teori yang kuat. Ini juga bikin kamu terlihat serius dan terarah dalam riset.
2. Mengidentifikasi Kesenjangan Penelitian (Research Gap)
Salah satu tujuan paling penting dari tinjauan pustaka adalah mencari celah penelitian atau hal-hal yang belum banyak dibahas oleh penelitian sebelumnya. Inilah yang disebut research gap.
Research gap itu penting supaya penelitianmu punya nilai kebaruan (novelty). Kalau kamu nggak menemukan celah penelitian, skripsimu bisa dianggap cuma mengulang penelitian yang sudah ada.
Contohnya, kalau mayoritas penelitian membahas pengaruh Instagram terhadap kecemasan mahasiswa, mungkin kamu bisa fokus ke platform lain seperti TikTok, atau ke variabel lain seperti self-esteem.
3. Memperkuat Kerangka Teori
Kerangka teori adalah “peta” yang membimbing penelitianmu dari awal sampai akhir. Nah, tinjauan pustaka berfungsi untuk membangun kerangka ini.
Dengan mengulas teori-teori dan hasil penelitian terdahulu, kamu bisa menentukan teori mana yang relevan, variabel apa saja yang akan digunakan, dan hubungan antar variabel tersebut.
Kerangka teori ini nantinya akan menjadi dasar saat kamu menyusun hipotesis atau rumusan masalah.
4. Menghindari Plagiarisme dan Duplikasi Penelitian
Menulis tinjauan pustaka memaksa kamu untuk membaca banyak penelitian terdahulu. Dari sini, kamu bisa memastikan kalau penelitianmu tidak menjiplak atau mengulang secara persis penelitian orang lain.
Kalau pun topiknya sama, kamu bisa memodifikasi metode, variabel, atau populasi penelitian supaya hasilnya berbeda. Dengan begitu, skripsimu tetap orisinal dan etis secara akademik.
5. Memberikan Justifikasi Metodologi
Tinjauan pustaka juga membantu kamu memilih metode penelitian yang tepat. Misalnya, kalau mayoritas penelitian terdahulu menggunakan metode survei dengan kuesioner, kamu bisa mempertimbangkan metode yang sama supaya hasil penelitianmu bisa dibandingkan secara langsung.
Sebaliknya, kalau kamu mau mencoba metode yang berbeda, kamu bisa menjelaskan alasan ilmiahnya dengan merujuk pada literatur yang relevan.
Cara Membuat Tinjauan Pustaka yang Efektif
Setelah tahu fungsi pentingnya, sekarang kita masuk ke langkah-langkah membuat tinjauan pustaka yang rapi, sistematis, dan bikin dosen pembimbing langsung angguk-angguk setuju.
1. Kumpulkan Sumber Referensi yang Kredibel
Langkah pertama adalah mencari referensi dari sumber terpercaya. Hindari referensi yang berasal dari blog pribadi atau situs yang tidak memiliki kredibilitas akademik.
Sumber yang direkomendasikan meliputi:
- Jurnal ilmiah bereputasi (Scopus, Sinta, Google Scholar)
- Buku akademik yang diterbitkan oleh penerbit resmi
- Laporan penelitian resmi dari lembaga pemerintah atau lembaga riset
- Prosiding konferensi ilmiah
Gunakan Google Scholar untuk mencari kata kunci penelitian, lalu filter berdasarkan 5–10 tahun terakhir agar relevansinya tetap tinggi.
2. Baca dan Catat Poin Penting
Setelah menemukan literatur, jangan langsung copy-paste ke skripsi. Baca dengan teliti, lalu catat poin-poin yang relevan dengan topik penelitianmu.
Misalnya, kalau topikmu tentang pengaruh media sosial terhadap kecemasan akademik, poin yang bisa dicatat meliputi definisi media sosial, teori psikologi yang relevan, dan temuan penelitian terdahulu yang sejalan dengan topik.
3. Kelompokkan Berdasarkan Tema
Biar mudah dibaca, kelompokkan literatur berdasarkan tema atau subtopik.
Contoh pengelompokan:
- Teori yang digunakan (misalnya teori Uses and Gratifications, teori kecemasan sosial)
- Penelitian terdahulu di Indonesia
- Penelitian terdahulu di luar negeri
- Penelitian yang fokus pada variabel serupa (misalnya self-esteem, motivasi belajar)
Pengelompokan ini akan membuat tulisanmu lebih mengalir dan terstruktur.
4. Tulis dengan Bahasa Sendiri
Kesalahan umum mahasiswa adalah menyalin teks dari jurnal tanpa parafrase. Padahal, plagiarisme bisa bikin skripsi ditolak.
Gunakan teknik parafrase: ubah struktur kalimat, ganti sinonim, tapi jangan mengubah makna asli.
Setiap kali menulis ulang, tetap sertakan sitasi sesuai format yang digunakan kampus (APA, Chicago, IEEE, atau lainnya).
5. Kaitkan dengan Penelitian yang Akan Dilakukan
Bagian akhir tinjauan pustaka harus menghubungkan literatur yang sudah dibahas dengan penelitianmu. Jelaskan bagaimana penelitian terdahulu menjadi dasar bagi penelitian yang sedang kamu lakukan, sekaligus tunjukkan di mana posisi penelitianmu di antara literatur yang ada.
Contohnya:
“Berbeda dengan penelitian terdahulu yang fokus pada Instagram, penelitian ini akan mengkaji pengaruh TikTok terhadap kecemasan akademik mahasiswa di Indonesia. Pemilihan platform TikTok didasarkan pada popularitasnya yang meningkat di kalangan mahasiswa.”
Tips Menghindari Kesalahan dalam Tinjauan Pustaka
Menulis tinjauan pustaka itu gampang-gampang susah. Banyak mahasiswa yang terjebak pada kesalahan klasik yang bikin dosen langsung geleng kepala. Berikut beberapa kesalahan umum dan cara menghindarinya:
1. Menggunakan Sumber yang Tidak Kredibel
Banyak mahasiswa mengutip dari blog atau artikel populer yang tidak memiliki landasan ilmiah. Ini akan membuat skripsimu dipertanyakan kualitasnya.
Solusi: Pastikan sumber berasal dari jurnal terindeks, buku akademik, atau laporan penelitian resmi.
2. Terlalu Banyak Copy-Paste
Copy-paste tanpa parafrase bukan hanya membuat tulisan terlihat tidak orisinal, tapi juga berisiko terkena deteksi plagiarisme.
Solusi: Gunakan bahasa sendiri dan tetap sertakan sitasi. Kalau perlu, gunakan tools pengecek plagiarisme sebelum menyerahkan draft ke dosen.
3. Tidak Menghubungkan Antar Penelitian
Kesalahan yang sering terjadi adalah menulis ringkasan penelitian satu per satu tanpa ada hubungan antar penelitian. Akibatnya, tinjauan pustaka terasa seperti kumpulan catatan, bukan analisis yang menyeluruh.
Solusi: Kaitkan setiap penelitian dengan penelitian lain, tunjukkan persamaan, perbedaan, dan gap yang ada.
4. Tidak Meng-update Referensi
Menggunakan referensi lama (lebih dari 15 tahun) tanpa alasan yang kuat membuat penelitian terkesan ketinggalan zaman.
Solusi: Gunakan literatur terbaru, minimal dalam 5–10 tahun terakhir, kecuali untuk teori klasik yang memang relevan sepanjang waktu.
5. Menulis Terlalu Umum
Banyak mahasiswa yang membuat tinjauan pustaka terlalu luas sehingga keluar dari fokus penelitian.
Solusi: Pastikan semua pembahasan relevan dengan variabel dan topik penelitian yang kamu angkat.
Penutup
Menyusun tinjauan pustaka bukan sekadar kewajiban formal dalam skripsi, tapi juga fondasi yang menentukan kekuatan penelitianmu. Tinjauan pustaka yang baik mampu menunjukkan bahwa kamu memahami konteks penelitian, mengetahui posisi penelitianmu di antara literatur yang ada, dan bisa mengidentifikasi gap penelitian yang perlu diisi.
Dengan mengumpulkan referensi kredibel, mengelompokkan berdasarkan tema, menulis dengan bahasa sendiri, serta mengaitkan hasil penelitian terdahulu dengan topik yang sedang kamu teliti, kamu sedang membangun pondasi ilmiah yang kokoh. Tidak hanya itu, kamu juga sedang melatih kemampuan berpikir kritis dan analitis — dua keterampilan yang sangat dihargai di dunia akademik maupun profesional.
Kesalahan seperti menggunakan sumber yang tidak kredibel, terlalu banyak copy-paste, atau menulis tanpa alur yang jelas akan merusak kualitas tinjauan pustaka. Oleh karena itu, penting untuk menulis dengan rencana yang matang, melakukan review berkala, dan tidak segan merevisi bagian yang kurang kuat.
Ingat, dosen pembimbing biasanya bisa menilai kualitas skripsi hanya dari membaca Bab 2. Kalau tinjauan pustakanya rapi, terstruktur, dan relevan, besar kemungkinan bab-bab selanjutnya akan dinilai baik pula. Jadi, jangan anggap enteng proses ini. Luangkan waktu, berikan perhatian penuh, dan gunakan sumber yang tepat agar skripsimu tidak hanya lolos revisi, tapi juga menjadi karya akademik yang layak dibanggakan.




