Pernah gak sih kamu duduk di depan laptop, ngetik “metode penelitian skripsi kualitatif itu apa sih?” trus makin scroll makin pusing karena penjelasannya formal banget dan bikin ngantuk? Padahal kamu cuma pengen tahu: “Aku harus milih metode penelitian kualitatif atau kuantitatif ya buat skripsi aku?” atau “Kapan sih metode ini cocok dipakai?”
Nah, tenang bestie. Kamu gak sendirian. Banyak mahasiswa galau di fase awal skripsi gara-gara bingung milih metode penelitian. Di artikel ini, kita bakal bahas tuntas tentang metode penelitian kualitatif, tapi dengan gaya ngobrol santai ala mahasiswa akhir yang lagi berjuang bareng. Kita kupas juga 5 jenis penelitian kualitatif yang sering dipakai, 5 contoh penelitian kualitatif yang nyata banget, dan alasan kenapa kamu sebaiknya memilih metode ini. Siap? Yuk gas!
Daftar Isi
ToggleMetode Penelitian Kualitatif: Apa dan Kenapa?

Sebelum kamu makin bingung, kita mulai dulu dari definisinya. Jadi gini, metode penelitian kualitatif itu adalah pendekatan yang fokus buat memahami makna, pengalaman, dan fenomena sosial secara mendalam. Yang dibahas di sini bukan angka-angka atau grafik, tapi cerita, emosi, pengalaman hidup, dan realita yang kompleks. Intinya, kualitatif itu cocok banget buat kamu yang suka “ngulik” dan pengen dapetin pemahaman yang lebih dalam, bukan sekadar data permukaan.
1. Tujuan dan Fokus Penelitian Kualitatif
Tujuan utama dari metode ini adalah untuk memahami “mengapa” dan “bagaimana” suatu fenomena terjadi, bukan cuma “berapa banyak”. Jadi, kalau kamu pengen tahu kenapa mahasiswa bisa sampai burnout karena skripsi, atau gimana pengalaman guru honorer menghadapi sistem pendidikan saat ini, maka kualitatif adalah jawabannya.
Berbeda dari metode kuantitatif yang menuntut kamu ngumpulin data dalam jumlah besar dan ngitung statistik, metode kualitatif lebih bebas. Kamu bisa ngumpulin data lewat wawancara, observasi, atau dokumen. Dan bukan sembarang data ya, tapi data yang kaya, mendalam, dan penuh makna.
2. Cocok Buat Tema yang Personal dan Sosial
Misalnya kamu mau teliti soal persepsi body image di kalangan mahasiswa perempuan, pengalaman pengguna TikTok dalam membentuk identitas diri, atau peran komunitas motor dalam membangun solidaritas sosial. Tema-tema kayak gini tuh gak bisa diukur pake angka. Kamu perlu ngobrol langsung, observasi, dan dengerin kisah mereka dengan empati.
Inilah salah satu alasan memilih penelitian kualitatif: dia memberikan ruang buat topik-topik yang humanis dan kontekstual, yang seringkali gak bisa ditangkap kalau pakai metode statistik semata.
3. Data Non-Numerik yang Kaya Makna
Yang dikumpulin bukan hasil survei berformat skala Likert, tapi transkrip wawancara, catatan lapangan, foto, bahkan rekaman suara. Semua itu kemudian dianalisis secara tematik, naratif, atau bahkan visual. Jadi bukan cuma ngelihat apa yang dikatakan, tapi juga bagaimana cara mereka mengatakannya. Makanya, metode ini cocok banget buat kamu yang suka baca antara baris, yang peka terhadap dinamika sosial, dan tertarik menggali pengalaman manusia secara mendalam.
4. Peneliti = Alat Utama
Dalam penelitian kualitatif, kamu sebagai peneliti bukan cuma ngumpulin data. Kamu adalah instrumen utama. Artinya, cara kamu wawancara, cara kamu berinteraksi dengan partisipan, dan bahkan cara kamu menafsirkan data sangat menentukan hasil penelitian. Tapi jangan salah kaprah. Subjektivitas di sini bukan berarti bebas seenaknya. Justru kamu harus reflektif, terbuka, dan sadar terhadap bias yang mungkin muncul. Inilah kenapa kualitatif dianggap “berat tapi bermakna”.
5. Penelitian yang Punya Dampak Sosial
Salah satu nilai plus metode kualitatif adalah potensi dampaknya. Banyak hasil penelitian kualitatif yang dipakai untuk membuat perubahan sosial, kebijakan publik, hingga advokasi. Karena hasilnya bukan cuma statistik, tapi suara nyata dari individu dan kelompok yang selama ini gak kedengaran. Jadi, kalau kamu pengen skripsimu gak cuma jadi syarat lulus, tapi juga berguna buat masyarakat, penelitian kualitatif bisa jadi pilihan yang powerful.
5 Jenis Penelitian Kualitatif yang Bisa Kamu Pilih
Nah, setelah tahu gambaran umumnya, sekarang kita bahas satu per satu 5 jenis penelitian kualitatif yang sering dipakai mahasiswa. Masing-masing punya fokus dan pendekatan yang beda-beda. Jangan takut, kita bahas pelan-pelan kok.
1. Studi Kasus: Ngulik Satu Kasus Sampai Akar-akarnya
Kalau kamu tipe orang yang suka mendalami satu hal secara fokus dan detail, metode studi kasus bisa jadi pilihan. Di sini kamu akan meneliti satu fenomena, institusi, individu, atau kelompok tertentu secara mendalam dalam konteks kehidupannya yang nyata.
Misalnya, kamu ingin meneliti “pengalaman mahasiswa difabel di salah satu universitas negeri di Indonesia”. Itu bisa jadi studi kasus. Kamu fokus ke satu lokasi, satu kelompok, satu masalah. Tapi dalamnya bukan main.
Studi kasus biasanya menggunakan berbagai teknik pengumpulan data seperti wawancara, observasi, dokumen resmi, hingga foto atau video. Keunggulannya? Kamu bisa dapet gambaran yang sangat kaya dan utuh soal satu fenomena spesifik.
Tapi kelemahannya juga jelas: sulit digeneralisasi. Penelitianmu memang kuat di kedalaman, tapi gak bisa langsung dipakai untuk menarik kesimpulan luas. Meski begitu, studi kasus tetap relevan banget, terutama buat topik-topik yang masih jarang diteliti.
2. Etnografi: Menyelam di Budaya dan Komunitas
Etnografi itu metode kualitatif yang biasa dipakai buat memahami budaya, norma, dan praktik sosial suatu komunitas. Biasanya peneliti akan melakukan observasi partisipatif—alias ikut hidup bareng kelompok yang diteliti selama beberapa waktu. Misalnya, kamu tertarik meneliti gaya hidup komunitas digital nomad di Bali, atau cara hidup petani milenial di desa organik. Nah, etnografi bakal bantu kamu menangkap dinamika sosial mereka secara nyata dan mendalam.
Etnografi mengharuskan kamu benar-benar jadi bagian dari komunitas itu: kamu harus ikut aktivitas mereka, ngobrol, mencatat, dan memahami dari dalam. Ini tentu butuh waktu, energi, dan keterampilan sosial yang tinggi. Tapi reward-nya sepadan. Hasil etnografi biasanya sangat insightful dan bisa membuka perspektif baru yang sebelumnya gak pernah dipikirkan oleh pembaca biasa.
3. Fenomenologi: Menyelami Pengalaman Personal
Kalau kamu pengen memahami bagaimana seseorang mengalami suatu hal secara personal, fenomenologi adalah metode yang tepat. Fokus utamanya adalah pengalaman subjektif dari individu. Kamu benar-benar menyelam ke dalam makna yang mereka rasakan.
Misalnya kamu ingin meneliti “pengalaman mahasiswa perantauan menghadapi homesick selama pandemi”, maka fenomenologi adalah pendekatan terbaik. Kamu akan mengumpulkan data lewat wawancara mendalam, dan menganalisisnya dengan mencari tema-tema pengalaman yang muncul.
Yang kamu cari bukan frekuensi, tapi esensi. Apa sih makna yang mereka berikan pada pengalaman itu? Bagaimana perasaan, pikiran, dan interpretasi mereka? Fenomenologi itu personal, empatik, dan sangat humanistik. Tapi kamu harus punya kepekaan tinggi saat wawancara, karena kamu akan menggali hal-hal yang bisa jadi sangat emosional bagi partisipan.
4. Grounded Theory: Bikin Teori dari Nol, Langsung dari Lapangan
Kalau kamu tipe mahasiswa yang suka mikir out of the box dan pengen ngebangun teori sendiri dari hasil observasi nyata, maka metode grounded theory adalah pilihan paling tepat. Ini bukan metode yang kamu pakai kalau kamu cuma pengen “uji teori”, tapi metode yang kamu pakai kalau kamu justru pengen bikin teori baru berdasarkan data.
Grounded theory cocok banget buat menjawab pertanyaan seperti: “Bagaimana proses mahasiswa semester akhir menghadapi tekanan skripsi secara psikologis?”, atau “Bagaimana proses adaptasi ibu muda bekerja di sektor informal pasca melahirkan?” Pokoknya yang proses-proses gitu deh.
Dalam metode ini, kamu bakal mengumpulkan data (biasanya dari wawancara), menganalisisnya sambil jalan (jadi bukan nunggu semua data terkumpul dulu), lalu terus melakukan coding hingga muncul pola, konsep, dan akhirnya teori yang benar-benar muncul dari data itu sendiri. Bukan teori yang kamu temuin di jurnal, tapi kamu temukan dari lapangan.
Kelebihannya jelas: hasil penelitianmu bakal sangat otentik, dan bisa jadi kontribusi ilmiah yang kuat. Tapi kekurangannya juga jelas: prosesnya panjang, bisa bikin mumet, dan butuh ketelatenan. Tapi kalau kamu sukses, kamu bisa bikin dosen pembimbingmu bangga maksimal. Makanya metode ini biasanya banyak dipakai di level tesis S2 atau disertasi S3, tapi bukan berarti gak bisa kamu coba di skripsi—asal kamu punya waktu, energi, dan semangat juang yang kuat.
5. Naratif: Membaca Hidup Lewat Cerita
Kalau kamu suka mendengarkan cerita hidup orang lain, suka nulis kisah, dan punya empati tinggi, metode naratif cocok banget buat kamu. Dalam pendekatan ini, kamu akan mengumpulkan data dari cerita hidup seseorang atau beberapa orang, lalu menganalisisnya untuk memahami makna dari perjalanan hidup mereka.
Misalnya kamu pengen meneliti “perjalanan hidup penyintas kanker usia muda” atau “kisah anak-anak broken home menghadapi dunia perkuliahan”. Ini cerita-cerita yang penuh emosi dan kompleksitas, dan naratif adalah metode terbaik buat menyelami itu semua.
Kamu akan melakukan wawancara mendalam, merekam cerita mereka secara utuh, dan kemudian menganalisis bagaimana mereka membangun narasi hidupnya. Apa yang mereka anggap penting? Bagaimana cara mereka memaknai peristiwa tertentu? Bagaimana cerita itu membentuk identitas mereka?
Metode ini sangat powerful karena menyatukan antara human story dan analisis ilmiah. Tapi kamu juga harus hati-hati dalam menyajikannya, terutama soal etika, privasi, dan cara menceritakan kisah mereka dengan penuh hormat.
Kesimpulannya? Kalau kamu pengen bikin skripsi yang menyentuh dan penuh makna, naratif bisa jadi pilihan yang tepat.
5 Contoh Penelitian Kualitatif Biar Kamu Gak Makin Bingung
Udah tahu jenis-jenis metode penelitian kualitatif, tapi masih bingung contoh real-nya kayak gimana? Tenang, ini dia 5 contoh penelitian kualitatif yang bisa jadi referensi kamu. Kita kupas singkat dan jelas.1. “Pengalaman Mahasiswa Merantau dalam Menyesuaikan Diri di Kota Besar” – Fenomenologi
Penelitian ini cocok untuk kamu yang pengen tahu gimana rasanya jadi mahasiswa dari daerah yang pindah ke kota besar buat kuliah. Kamu bisa gali tentang homesick, culture shock, adaptasi sosial, sampai cara mereka membentuk pertemanan baru.
Wawancara jadi kunci utama di sini. Kamu ngobrol dengan beberapa mahasiswa perantau, rekam kisah mereka, lalu identifikasi tema-tema penting dari pengalaman itu.
Dari penelitian ini, kamu bisa nemuin insight soal bagaimana proses adaptasi terjadi, tantangan-tantangan yang mereka hadapi, dan apa aja support system yang paling membantu.
2. “Strategi Guru Honorer dalam Bertahan di Tengah Keterbatasan Finansial” – Studi Kasus
Kasus ini bisa kamu ambil di satu sekolah, atau bahkan satu guru saja. Kamu telusuri kehidupan sehari-hari mereka, mulai dari keseharian mengajar, pekerjaan sampingan, sampai bagaimana mereka mengatur keuangan untuk tetap survive.
Data yang kamu kumpulkan bisa berupa wawancara, observasi aktivitas sehari-hari, hingga dokumen-dokumen pendukung seperti absensi dan slip gaji.
Dari sini kamu bisa dapat pemahaman mendalam tentang realitas sosial yang seringkali luput dari perhatian publik. Skripsimu gak cuma akademis, tapi juga punya nilai advokasi.
3. “Makna Perilaku Self-Harm pada Remaja Urban” – Grounded Theory
Topik ini cocok banget untuk pendekatan grounded theory karena kamu akan mencoba membangun pemahaman atau bahkan teori awal tentang mengapa perilaku self-harm terjadi di kalangan remaja kota.
Metodenya: kamu wawancarai beberapa remaja dengan latar belakang berbeda yang pernah mengalami atau menyaksikan self-harm, lalu analisis data secara simultan untuk membentuk teori dasar dari pengalaman mereka.
Hasilnya bisa sangat mengubah cara pandang kita terhadap kesehatan mental dan remaja urban yang kerap dikaitkan dengan tekanan sosial.
4. “Peran Komunitas Pecinta Alam dalam Meningkatkan Kesadaran Lingkungan di Kalangan Mahasiswa” – Etnografi
Kamu bisa ikut komunitas tersebut selama beberapa minggu atau bulan. Ikut naik gunung, ikut aksi bersih sungai, diskusi mingguan, dan aktivitas mereka lainnya.
Kamu mencatat dinamika kelompok, interaksi antar anggota, hingga ritual-ritual khas mereka. Lalu kamu analisis bagaimana semua itu membentuk kesadaran kolektif soal isu lingkungan.
Hasil penelitianmu bisa jadi rujukan penting buat organisasi lain atau bahkan kampus dalam merancang program lingkungan yang lebih kontekstual.
5. “Kisah Perjuangan Ibu Tunggal dalam Membangun Bisnis Rumahan” – Naratif
Ceritanya bisa sangat inspiratif sekaligus menyentuh. Kamu cukup pilih 2-3 informan yang punya kisah hidup kuat dan signifikan. Lalu kamu wawancara mereka untuk menyusun narasi hidup mereka secara runut.
Dari cerita mereka, kamu bisa analisis aspek-aspek psikologis, sosial, ekonomi, bahkan kultural yang membentuk identitas mereka sebagai ibu tunggal sekaligus pebisnis rumahan.
Penelitian ini bisa memberi wawasan baru bagi banyak orang tentang perjuangan yang selama ini gak banyak dibicarakan secara ilmiah.