Pernah gak sih kamu kepikiran, “Kenapa skripsi itu harus ribet banget? Dan kenapa harus milih metode penelitian segala?” Kalau kamu lagi di fase awal nulis skripsi, pasti kamu bakal dihadapkan sama dua jalur: kualitatif atau kuantitatif. Nah, buat kamu yang suka data angka, suka yang jelas-jelas aja, dan pengen hasil yang bisa diuji pakai statistik, berarti kamu cocoknya pake metode penelitian kuantitatif.
Di artikel ini, kita bakal bahas secara lengkap, detail, dan santai soal metode penelitian kuantitatif. Dari pengertian, jenis-jenisnya, sampai langkah-langkah biar kamu bisa nyusun skripsi dengan valid, reliabel, dan pastinya gak bikin kepala kamu mau meledak. Kita juga bakal kasih 5 contoh penelitian kuantitatif, alasan kenapa kamu harus milih metode ini, dan tips biar semuanya lancar jaya. Siap, bestie? Yuk, kita mulai obrolan kita bareng!
Daftar Isi
ToggleKenalan Dulu Sama Metode Penelitian Kuantitatif

Sebelum ngomongin lebih jauh, kita mulai dari yang paling dasar: apa sih yang dimaksud dengan metode penelitian kuantitatif? Nah, metode ini adalah pendekatan yang pake data numerik alias angka-angka buat menjawab pertanyaan penelitian. Jadi bukan sekadar “kira-kira” atau “menurut saya”, tapi berdasarkan perhitungan yang jelas dan bisa diuji secara statistik.
1. Fokus pada Pengukuran Variabel
Metode kuantitatif itu biasanya dipakai buat ngukur hubungan antara satu variabel dengan variabel lain. Misalnya, kamu pengen tahu apakah ada hubungan antara kebiasaan begadang dengan prestasi akademik mahasiswa. Nah, kamu bakal bikin instrumen kayak kuesioner, ngumpulin data dari banyak responden, lalu dihitung pakai rumus statistik.
Di sini kamu gak cuma ngeliat satu dua orang aja, tapi sampel yang lebih luas biar bisa mewakili populasi. Jadi hasilnya bisa digeneralisasi dan kamu bisa bilang, “Secara statistik, begadang memang berpengaruh negatif ke IPK mahasiswa.”
2. Pendekatannya Objektif dan Sistematis
Kalau kamu tipe mahasiswa yang suka semuanya terstruktur dan logis, metode ini pas banget. Semua datanya bisa diukur, ditulis dengan angka, dan dianalisis pakai software statistik seperti SPSS, Excel, R, atau Python. Gak ada istilah “menurut feeling”, semua berdasarkan data. Itulah kenapa penelitian kuantitatif dianggap lebih objektif. Karena datanya real, bisa diuji ulang, dan hasilnya lebih mudah dipresentasikan dalam bentuk grafik, tabel, atau persentase.
3. Cocok Buat Topik Sosial, Pendidikan, Psikologi, dan Ekonomi
Metode ini banyak banget dipakai di berbagai bidang ilmu. Di bidang pendidikan misalnya, kamu bisa teliti “pengaruh metode belajar daring terhadap motivasi siswa”. Di psikologi bisa teliti “hubungan antara kecemasan sosial dan penggunaan media sosial”. Di ekonomi, kamu bisa ukur “pengaruh inflasi terhadap daya beli masyarakat”. Kuncinya, kamu punya variabel yang bisa diukur dan hubungan yang bisa diuji. Kalau udah ada itu, kamu tinggal desain instrumen, sebar ke responden, dan analisis datanya.
4. Butuh Alat Statistik, Tapi Jangan Takut!
Banyak yang langsung ciut nyali begitu dengar kata “statistik”. Padahal, statistik di sini bisa kamu pelajari dengan bertahap. Apalagi sekarang banyak banget tutorial gratis di YouTube, website, bahkan dosen pembimbing yang siap bantuin kamu. Biasanya kamu akan belajar soal uji korelasi, regresi, uji t, ANOVA, dan lain-lain. Tapi tenang aja, semua itu akan terasa lebih mudah kalau kamu ngerti dulu logikanya. Jangan khawatir, nanti di bagian analisis data kita bahas lebih lanjut.
5. Hasilnya Bisa Dijadikan Kebijakan atau Rekomendasi Praktis
Salah satu keunggulan metode kuantitatif adalah hasilnya bisa dipakai buat ambil keputusan. Karena datanya bisa digeneralisasi, hasilnya bisa dijadikan dasar buat kebijakan kampus, strategi pemasaran, atau bahkan program pemerintah. Jadi kalau kamu pengen skripsimu gak cuma jadi tumpukan kertas di perpustakaan, tapi bisa beneran berguna di dunia nyata, metode kuantitatif bisa jadi pilihan yang sangat tepat.
3 Jenis Metode Penelitian Kuantitatif yang Harus Kamu Tahu
Sekarang kita masuk ke jenis-jenis penelitian kuantitatif. Kamu gak bisa asal pilih, karena masing-masing punya tujuan dan pendekatan yang beda. Jadi pastikan kamu ngerti bedanya sebelum mutusin pakai yang mana.
1. Penelitian Deskriptif: Ngegambar Fenomena
Penelitian deskriptif itu cocok banget buat kamu yang pengen tahu gambaran umum suatu fenomena. Misalnya kamu pengen tahu “seberapa besar tingkat stres mahasiswa selama menyusun skripsi.” Kamu gak sedang mencari hubungan antara dua variabel, tapi cuma ingin tahu seperti apa keadaan yang terjadi. Biasanya, kamu akan menggunakan kuesioner atau survei sebagai instrumen utama. Lalu kamu olah datanya dalam bentuk persentase, frekuensi, atau rerata. Misalnya: 60% mahasiswa merasa stres berat saat deadline, 25% stres sedang, dan 15% merasa santai.
Penelitian ini cocok buat skripsi yang bersifat eksploratif awal, atau buat memperkuat dasar dari penelitian selanjutnya yang lebih kompleks. Kelebihannya? Gampang dilakukan dan gak terlalu ribet analisisnya. Kekurangannya? Gak bisa menjelaskan hubungan sebab-akibat atau prediksi.
2. Penelitian Korelasional: Ngecek Ada Hubungan Gak?
Jenis ini cocok banget buat kamu yang pengen tahu apakah dua variabel itu saling berhubungan. Misalnya, apakah ada hubungan antara intensitas belajar dengan hasil ujian akhir? Atau, apakah penggunaan TikTok memengaruhi tingkat konsentrasi mahasiswa? Penelitian korelasional biasanya menggunakan uji statistik seperti uji Pearson, Spearman, atau Kendall tergantung pada jenis data yang kamu punya. Hasilnya bisa berupa “hubungan positif”, “hubungan negatif”, atau “tidak ada hubungan sama sekali”.
Metode ini nggak bisa menyatakan sebab-akibat secara pasti, tapi cukup powerful untuk menunjukkan adanya pola hubungan antar variabel. Dan hasilnya bisa jadi dasar buat penelitian eksperimental di masa depan. Jadi kalau kamu tipe mahasiswa yang suka bikin hipotesis, tapi gak mau terlalu ribet dengan uji coba variabel, metode korelasional bisa jadi pilihan yang pas.
3. Penelitian Eksperimen: Bikin Uji Coba Sendiri
Kalau kamu pengen tahu hubungan sebab-akibat, maka penelitian eksperimen adalah jawabannya. Di sini kamu akan melakukan manipulasi terhadap satu atau lebih variabel independen, lalu mengamati efeknya terhadap variabel dependen. Misalnya kamu pengen tahu, “Apakah belajar sambil denger musik bisa meningkatkan konsentrasi belajar mahasiswa?” Nah, kamu bisa bagi dua kelompok: satu kelompok belajar pakai musik, satu lagi tanpa musik. Lalu kamu bandingkan hasilnya.
Eksperimen bisa dilakukan di laboratorium (kontrol ketat) atau di lapangan (lebih fleksibel). Tapi jelas, metode ini butuh perencanaan matang, etika penelitian, dan kontrol yang ketat agar hasilnya valid. Kelebihannya? Kamu bisa mengklaim hubungan sebab-akibat secara lebih meyakinkan. Kekurangannya? Lebih ribet dan butuh kondisi yang ideal.
Langkah-Langkah Penelitian Kuantitatif: Biar Skripsimu Gak Asal Jalan
Oke bestie, sekarang kita masuk ke bagian paling penting: langkah penelitian kuantitatif. Ini wajib kamu kuasai, karena kalau salah langkah di awal, bisa-bisa skripsimu kacau di tengah jalan. Nah, biar kamu gak bingung dan bisa ngerjain dengan tenang, kita bahas satu per satu langkahnya secara runtut, lengkap, dan tetap santai ya.
1. Menentukan Topik Penelitian: Jangan Asal Pilih Biar Gak Menyesal
Langkah pertama yang super krusial adalah milih topik. Jangan asal comot ya, karena topik ini bakal jadi “teman hidupmu” selama beberapa bulan ke depan. Kalau kamu milih topik yang kamu gak minat, siap-siap deh drama skripsi makin panjang.
Pilih topik yang:
- Relevan dengan jurusan kamu
- Menarik buat kamu pribadi
- Realistis untuk diteliti (dari segi data dan waktu)
- Ada referensinya (biar kamu gak kehabisan literatur)
Contohnya, kamu anak Manajemen dan tertarik sama dunia digital marketing. Kamu bisa ambil topik kayak: “Pengaruh Influencer Marketing terhadap Keputusan Pembelian Produk Skincare di Kalangan Mahasiswa”. Udah relate, kekinian, dan datanya gampang dicari.
2. Merumuskan Hipotesis: Prediksi Ilmiah Bukan Sembarang Tebakan
Setelah punya topik, kamu perlu bikin hipotesis. Hipotesis itu pernyataan sementara yang kamu ajukan untuk diuji kebenarannya. Dalam metode penelitian skripsi kuantitatif, hipotesis ini jadi pegangan buat nyusun instrumen, nyari data, dan melakukan analisis.
Biasanya ada dua jenis hipotesis:
- Hipotesis nol (H0): Tidak ada pengaruh atau hubungan
- Hipotesis alternatif (H1): Ada pengaruh atau hubungan
Contohnya:
- H0: Influencer marketing tidak berpengaruh terhadap keputusan pembelian.
- H1: Influencer marketing berpengaruh terhadap keputusan pembelian.
Hipotesis ini nantinya akan diuji pakai uji statistik. Kalau hasil analisis mendukung H1, berarti kamu berhasil membuktikan bahwa hipotesismu valid.
3. Menyusun Desain Penelitian: Blueprint Penelitianmu
Desain penelitian adalah rencana besar tentang bagaimana kamu bakal menjalankan penelitianmu. Di sini kamu harus menjelaskan:
- Jenis penelitian (deskriptif, korelasional, atau eksperimen)
- Variabel yang diteliti (independen dan dependen)
- Populasi dan sampel
- Teknik pengambilan sampel
- Metode pengumpulan data
- Instrumen penelitian (kuesioner, observasi, dll)
Tanpa desain yang jelas, skripsimu kayak jalan tanpa arah. Makanya, desain penelitian ini harus kamu susun secara logis dan terstruktur. Gak perlu rumit, yang penting jelas dan bisa dijalankan.
4. Pengumpulan Data: Turun ke Lapangan
Ini fase yang bikin banyak mahasiswa mulai stres: nyari data. Tapi tenang, kalau desainmu udah oke, proses ini akan berjalan lebih lancar. Dalam metode penelitian kuantitatif, pengumpulan data biasanya pakai kuesioner atau survei. Tips:
- Buat kuesioner yang simpel, jelas, dan tidak membingungkan
- Gunakan skala Likert (misalnya: sangat setuju – tidak setuju) untuk memudahkan analisis
- Sebar ke responden yang sesuai dengan kriteria sampel kamu
- Gunakan Google Form biar praktis dan bisa langsung diekspor ke Excel atau SPSS
Jangan lupa, validasi dulu instrumen kamu (uji validitas dan reliabilitas) sebelum disebar luas. Ini penting supaya datamu bisa dipertanggungjawabkan.
5. Analisis Data: Saatnya Main Statistik
Setelah data terkumpul, sekarang saatnya menganalisis. Ini bagian yang cukup teknis, tapi jangan panik. Kamu bisa pakai software seperti SPSS atau Excel untuk bantu uji hipotesis. Beberapa analisis yang sering dipakai antara lain:
- Uji korelasi
- Uji regresi
- Uji t (untuk dua kelompok)
- ANOVA (untuk lebih dari dua kelompok)
Analisis ini akan kasih kamu hasil berupa nilai-nilai statistik seperti nilai signifikansi (p-value). Nah, dari situ kamu bisa simpulkan: hipotesismu diterima atau ditolak.
Kalau p-value < 0,05, biasanya H1 diterima (ada pengaruh/hubungan). Kalau lebih dari itu, H0 yang diterima (tidak ada pengaruh).
Saatnya Mantap Memilih Metode Penelitian Kuantitatif untuk Skripsimu
Nah bestie, sampai di sini kamu udah ngerti banget kan soal metode penelitian kuantitatif? Mulai dari pengertian, jenis-jenisnya, langkah demi langkah penelitian, sampai 5 contoh penelitian kuantitatif yang relatable banget sama kehidupan kampus. Kita udah kupas juga alasan memilih penelitian kuantitatif, kelebihan dan keterbatasannya, dan tips biar kamu gak kesandung di tengah jalan.
Intinya, metode penelitian skripsi kuantitatif cocok banget buat kamu yang pengen hasil penelitian yang objektif, sistematis, dan bisa dianalisis secara statistik. Kalau kamu suka data yang jelas, suka main angka, dan pengen hasil penelitianmu bisa digeneralisasikan ke populasi yang lebih luas, maka ini adalah metode yang paling tepat buat kamu. Apalagi kalau kamu udah nyaman dengan tools kayak SPSS atau Excel, dijamin proses skripsimu bakal lebih terarah.
Tapi ingat, kuantitatif bukan berarti lebih mudah dari kualitatif—semuanya tergantung bagaimana kamu mengeksekusinya. Pastikan kamu memilih topik yang realistis, data yang tersedia, dan desain penelitian yang rapi. Jangan lupa juga sesuaikan dengan kemampuanmu dalam analisis data, karena meskipun statistik bisa dipelajari, tetap butuh latihan dan pemahaman yang matang.
Terakhir, metode penelitian kuantitatif bukan hanya tentang menyelesaikan tugas akhir. Lebih dari itu, ini adalah proses belajar tentang bagaimana dunia bekerja lewat data dan bukti. Jadi anggaplah skripsi kamu bukan sekadar kewajiban, tapi juga kontribusi kecilmu untuk dunia akademik dan masyarakat.
Semoga artikel ini bisa jadi panduan kamu yang lagi galau nentuin metode penelitian skripsi. Kalau kamu udah mantap pilih metode penelitian kuantitatif, tinggal susun strategi, mulai risetmu dengan percaya diri, dan selesaikan skripsimu tanpa drama berlebihan.
Yuk, saatnya #SkripsiTanpaPanik dimulai. Kamu pasti bisa!