Pernah ngerasa mentok waktu nyari referensi buat skripsi? Atau malah asal comot artikel tanpa tahu itu beneran nyambung atau enggak sama topik yang kamu angkat? Nah, ini nih yang sering bikin skripsi kita jadi “kaya isi tapi miskin makna.” Salah satu kesalahan paling umum yang dilakukan mahasiswa akhir adalah menyepelekan pentingnya penelitian relevan. Padahal, ini bukan cuma soal nyari referensi sebanyak-banyaknya, tapi soal gimana kamu bisa nunjukin kalau risetmu punya arah, dasar, dan dampak yang jelas.
Dalam artikel ini, kita bakal bahas secara santai dan mendalam gimana cara menemukan, memilih, dan menggunakan penelitian relevan dalam skripsi. Dari mulai bedain mana jurnal yang ngasal dan mana yang kredibel, sampai cara nyambungin hasil penelitian orang lain ke skripsimu tanpa kelihatan dipaksakan. Kita juga akan selipkan contoh-contoh nyata biar kamu makin ngerti cara kerja riset yang cakep.
Keyword utama dan pendukung yang bakal kita kulik di artikel ini: penelitian relevan, contoh penelitian relevan, cara membuat penelitian relevan, cara menulis penelitian relevan, dan tentu saja, penelitian relevan dalam skripsi.
Daftar Isi
ToggleKenapa Harus Repot Nyari Penelitian Relevan?

Sebelum kita bahas caranya, yuk lurusin dulu pemahaman dasar. Apa sih sebenarnya penelitian relevan itu? Gampangnya, penelitian relevan adalah penelitian yang nyambung, sinkron, dan mendukung topik skripsi kamu. Misalnya kamu lagi bahas pengaruh media sosial terhadap produktivitas kerja—ya referensinya jangan malah tentang kesehatan mental pada lansia. Walaupun sama-sama “penelitian,” tapi jelas nggak nyambung.
Kenapa ini penting? Soalnya dosen pembimbing dan penguji bisa langsung tahu kualitas skripsi kamu cuma dari seberapa tepat kamu milih referensi. Kalau kamu asal kutip tanpa tahu konteksnya, itu bisa jadi bumerang pas sidang. Bahkan bisa kena pertanyaan menjebak yang bikin kamu keringet dingin sendiri.
Selain itu, dengan pakai penelitian yang relevan, kamu otomatis punya fondasi kuat buat ngebangun argumen di skripsimu. Kamu bisa nunjukin kalau topik yang kamu angkat itu masih jadi bagian dari diskusi akademik yang aktif, dan bukan sekadar iseng karena kehabisan ide.
Kalau kamu udah tahu pentingnya, berarti sekarang waktunya cari tahu gimana caranya!
1. Tinjauan Pustaka Itu Bukan Formalitas
Kebanyakan mahasiswa ngerasa bagian tinjauan pustaka cuma formalitas. Akhirnya, ya udah deh, copas sana-sini, atau asal simpulin artikel yang ditemukan di halaman pertama Google Scholar. Padahal, justru di sinilah kamu bisa nunjukin kekuatan skripsimu.
Pertama, kamu harus mulai dengan bikin daftar topik kecil dari judul skripsimu. Misal kamu nulis tentang “pengaruh gaya kepemimpinan transformasional terhadap kinerja karyawan milenial,” maka kamu bisa pecah jadi beberapa keyword: gaya kepemimpinan, kepemimpinan transformasional, kinerja karyawan, generasi milenial, dan sebagainya.
Nah, dari situ kamu baru bisa mulai nyari contoh penelitian relevan yang beneran nyambung. Nggak harus yang topiknya sama plek ketiplek, tapi minimal punya variabel atau konteks yang mirip. Jangan lupa perhatikan tahun terbitnya juga. Referensi dari 10 tahun lalu sih boleh aja, tapi kalau semuanya jadul, nanti skripsimu kelihatan ketinggalan zaman.
Kalau bisa, gabungkan teori klasik sama penelitian terbaru. Misalnya, teori kepemimpinan dari Bass & Avolio digabung dengan jurnal tahun 2023 dari ScienceDirect yang bahas pengaruh gaya itu di perusahaan startup. Kombinasi ini bakal bikin tinjauan pustakamu lebih “berisi” dan nggak monoton.
2. Sumber yang Kredibel, Jangan Cuma Andalkan Blog
Ini penting banget: cara membuat penelitian relevan bukan hanya soal isi, tapi juga dari mana kamu dapet sumbernya. Banyak mahasiswa yang ngutip dari blog pribadi, artikel opini, bahkan konten marketing yang bukan dari jurnal ilmiah. Ini bisa jadi kesalahan fatal kalau sampai masuk di bab 2.
Tempat paling aman buat cari referensi adalah:
- Google Scholar (scholar.google.com)
- DOAJ (Directory of Open Access Journals)
- ScienceDirect
- SAGE Journals
- ProQuest
- Garuda Ristekdikti (kalau kamu butuh referensi dalam negeri)
Kalau kamu punya akses kampus ke database kayak EBSCO atau JSTOR, manfaatkan banget deh! Jangan lupa, cek apakah jurnal itu peer-reviewed alias sudah ditinjau oleh sesama akademisi. Biasanya tertera di laman jurnalnya.
Satu hal lagi, jangan mudah percaya sama artikel yang terlalu bombastis judulnya tapi nggak jelas siapa penulisnya. Kredibilitas sumber adalah kunci buat nunjukin kamu bukan cuma asal nulis, tapi beneran riset secara ilmiah.
1. Tentukan Dulu Fokus Penelitianmu
Sebelum mencari jurnal atau skripsi lain, kamu harus tahu dulu topik spesifikmu. Misalnya:
- Topik: Pengaruh Media Sosial terhadap Perilaku Konsumtif Mahasiswa
- Fokus: Mahasiswa Gen Z di Jakarta, platform Instagram, perilaku konsumtif terhadap fashion
Dengan fokus ini, kamu bisa lebih mudah menyaring penelitian yang senada, bukan hanya yang serupa secara umum.
2. Gunakan Kata Kunci Spesifik dan Variatif
Di database jurnal, kata kunci adalah senjatamu. Tapi jangan cuma pakai kata kunci dasar seperti media sosial atau perilaku konsumen. Coba:
- Sinonim → “social media”, “platform digital”
- Spesifikasi → “Instagram usage”, “Gen Z consumption behavior”
- Bahasa Inggris & Indonesia
Contoh pencarian di Google Scholar:"Instagram AND consumer behavior AND Gen Z" OR "perilaku konsumtif mahasiswa"
3. Pilih Sumber Tepercaya dan Terindeks
Pakai sumber yang punya reputasi baik:
- Google Scholar (scholar.google.com)
- DOAJ (Directory of Open Access Journals)
- Garuda (garuda.kemdikbud.go.id)
- Sinta (untuk jurnal nasional terakreditasi)
- ResearchGate, Scopus, ScienceDirect (untuk jurnal internasional)
Hindari blog pribadi, jurnal abal-abal, atau paper yang tidak melalui proses peer-review.
4. Cek Abstrak dan Kata Kunci Penelitian
Jangan langsung download PDF-nya. Baca dulu:
- Abstrak → menjelaskan tujuan, metode, dan hasil
- Kata Kunci → menunjukkan fokus pembahasan
Kalau dalam abstraknya topiknya beda jauh atau metodenya tidak sesuai (misalnya kamu mau kuantitatif tapi jurnalnya kualitatif eksploratif), skip aja.
5. Bandingkan dengan Topikmu: Apakah Nyambung?
Tanyakan ke diri sendiri:
- Apakah objek penelitiannya mirip?
- Apakah rumusan masalahnya bisa membantu menjawab skripsiku?
- Apakah metode atau teori yang digunakan bisa saya adaptasi?
Kalau “iya” untuk 2 dari 3 poin di atas, berarti jurnal itu berpotensi relevan.
6. Manfaatkan Fitur “Related Articles” dan “Cited by”
Di Google Scholar, kamu bisa klik:
- “Related articles” → untuk melihat jurnal yang membahas topik serupa
- “Cited by” → untuk melihat siapa saja yang mengutip jurnal tersebut (biasanya lebih terkini)
Ini berguna banget buat melacak tren atau arah perkembangan penelitian.
7. Gunakan Tools AI untuk Riset Lebih Cepat
Kalau kamu pengin cara yang lebih modern, coba pakai AI tools seperti:
- ResearchRabbit → buat melacak jaringan referensi
- Scite.ai → melihat kutipan kritis vs pendukung
- Consensus.app → AI pencari jurnal dengan jawaban langsung dari riset
- KonsultanEdu (kalau kamu ikut bimbingan) → ada fitur AI Jurnal Tracker
Dengan tools ini, kamu bisa menemukan jurnal yang tidak cuma relevan, tapi juga diakui dan dikembangkan oleh peneliti lain.
8. Simpan dan Catat Referensinya Sejak Awal
Saat sudah menemukan jurnal yang oke, langsung simpan:
- Link atau PDF-nya
- Informasi sitasi (judul, penulis, tahun, nama jurnal, volume, halaman)
- Tool bantu: Zotero, Mendeley, atau EndNote
Jangan menunggu nanti! Kalau kamu lupa nama jurnalnya, bisa stres sendiri




