Pernah nggak kamu sudah mantap memilih topik skripsi, merasa jalur penelitian kualitatif paling cocok, tapi pas masuk ke metode malah mentok di satu pertanyaan yang kelihatannya sederhana: siapa sebenarnya yang layak dijadikan informan penelitian kualitatif? Di titik ini, banyak mahasiswa baru sadar kalau memilih narasumber penelitian itu bukan sekadar cari orang yang bersedia diwawancarai. Salah pilih informan bisa bikin data dangkal, fokus penelitian kabur, dan hasil wawancara skripsi terasa tidak cukup kuat saat diuji dosen.
Masalahnya, banyak mahasiswa masih membawa logika penelitian kuantitatif ke penelitian kualitatif. Mereka sibuk bertanya “berapa orang yang harus diwawancarai?” padahal pertanyaan yang lebih penting justru “siapa yang benar-benar tahu, mengalami, atau terlibat dalam fenomena yang saya teliti?” Karena fokus penelitian kualitatif bukan mengejar banyaknya jawaban, tapi kedalaman makna, pemilihan informan harus jauh lebih tajam.
Di sinilah sering muncul kebingungan. Ada yang memilih informan karena paling mudah dihubungi. Ada yang mewawancarai orang yang ramah, tapi ternyata tidak cukup relevan. Ada juga yang memakai istilah “narasumber penelitian” dan “informan” secara bergantian tanpa benar-benar memahami bedanya dalam konteks metode. Hasil akhirnya, data yang didapat memang ada, tapi tidak cukup menjawab inti masalah penelitian.
Padahal kalau logikanya dipahami dari awal, menentukan informan penelitian kualitatif sebenarnya bisa dibuat lebih masuk akal. Kamu tidak perlu mulai dari istilah yang rumit. Kamu cukup mulai dari satu hal: fenomena apa yang ingin kamu pahami, siapa yang benar-benar mengalami atau mengetahui fenomena itu, dan kenapa orang tersebut layak didengar dalam penelitianmu. Dari situ, proses pemilihan informan akan terasa jauh lebih terarah.
Artikel ini akan membahas semuanya secara runtut dan pakai bahasa yang lebih dekat dengan realitas skripsi. Kita akan bahas kenapa informan sering salah pilih, apa bedanya informan dengan responden, bagaimana memakai purposive sampling, dan kapan seorang narasumber penelitian dianggap cukup relevan untuk diwawancarai. Jadi kalau kamu sedang menyusun Bab 3, menyiapkan wawancara skripsi, atau takut dosen bilang “informannya belum pas”, pembahasan ini memang perlu kamu baca sampai habis.

Daftar Isi
ToggleKenapa Informan Penelitian Kualitatif Sering Salah Dipilih?
Salah satu penyebab utamanya adalah banyak mahasiswa terlalu cepat ingin “punya nama informan” tanpa terlebih dulu memastikan apakah orang itu benar-benar relevan dengan fokus penelitian. Begitu ada kenalan, akses, atau pihak yang mudah dihubungi, langsung dianggap cocok jadi informan. Padahal dalam penelitian kualitatif, kemudahan akses tidak otomatis berarti kualitas data akan bagus.
Penyebab kedua, mahasiswa sering belum cukup jernih dengan fokus penelitiannya sendiri. Kalau topik masih terlalu lebar, pemilihan informan juga ikut goyah. Misalnya, kamu ingin meneliti pengalaman mahasiswa yang bekerja sambil skripsi, tapi informan yang dipilih justru mahasiswa yang belum pernah mengalami tekanan serupa. Dari luar kelihatannya sama-sama mahasiswa, tapi dari sisi pengalaman inti, sebenarnya tidak tepat.
Penyebab berikutnya adalah kebiasaan menyamakan informan dengan responden. Dalam penelitian kuantitatif, responden sering dipahami sebagai pihak yang mengisi instrumen. Sementara dalam penelitian kualitatif, informan adalah orang yang diharapkan bisa memberi data yang kaya, mendalam, dan relevan. Jadi logikanya beda. Kalau mahasiswa masih memakai pola pikir “yang penting ada yang menjawab”, hasil wawancara biasanya jadi tipis.
Ada juga yang terlalu bergantung pada template metodologi. Karena melihat skripsi lain memakai kepala sekolah, guru, atau pemilik usaha sebagai informan, mereka langsung mengikuti pola yang sama tanpa bertanya apakah peran-peran itu memang cocok untuk topiknya sendiri. Padahal informan yang tepat sangat tergantung pada masalah penelitian. Tidak ada daftar jabatan atau posisi yang otomatis selalu benar.
Makanya, kesalahan memilih informan penelitian kualitatif biasanya bukan karena mahasiswa malas, tapi karena keputusan ini sering dianggap sepele. Padahal justru di sinilah salah satu penentu utama kualitas data kualitatif. Informan yang tepat akan membuka jalan untuk pembahasan yang dalam. Informan yang kurang tepat akan membuat wawancara terasa ramai, tapi miskin isi.
Apa Itu Informan Penelitian Kualitatif dan Kenapa Beda dari Responden?
Dalam penelitian kualitatif, informan adalah orang yang dipilih karena dianggap punya pengetahuan, pengalaman, posisi, atau keterlibatan yang relevan terhadap fenomena yang sedang diteliti. Jadi, mereka bukan sekadar pihak yang menjawab pertanyaan, tapi sumber utama untuk memahami makna, konteks, dan dinamika suatu masalah.
Ini beda dengan responden dalam logika kuantitatif. Responden biasanya menjawab instrumen yang sudah disiapkan peneliti secara lebih terstruktur. Sementara informan penelitian kualitatif memberi data yang lebih terbuka, lebih dalam, dan sering kali berkembang selama proses wawancara berlangsung. Karena itu, yang dicari dari informan bukan banyaknya orang, tapi ketepatan orangnya.
Misalnya, kalau kamu meneliti pengalaman guru pemula menghadapi beban administrasi sekolah, maka informan yang paling relevan bukan semua guru secara umum, tapi guru pemula yang benar-benar sedang atau pernah mengalami hal itu. Kalau kamu meneliti strategi UMKM bertahan setelah penurunan penjualan, informan yang paling kuat bisa jadi pemilik usaha, manajer operasional, atau orang yang terlibat langsung dalam keputusan bisnis. Jadi, informan dipilih karena kualitas keterkaitannya dengan fenomena.
Di sinilah pentingnya membedakan antara “siapa yang bisa diajak bicara” dan “siapa yang layak dijadikan informan.” Tidak semua orang yang bisa diwawancarai otomatis layak menjadi sumber data utama. Dalam penelitian kualitatif, kualitas pemilihan orang jauh lebih menentukan daripada banyaknya orang yang diajak bicara.
Kalau kamu sudah paham beda ini, kamu akan lebih mudah menyusun logika metodologi. Kamu tidak lagi mencari orang secara acak, tapi mulai membangun alasan kenapa seorang narasumber penelitian memang penting untuk penelitianmu.
Ciri Informan Penelitian Kualitatif yang Layak Diwawancarai dalam Skripsi
Supaya lebih jelas, ada beberapa ciri yang biasanya membuat seseorang layak menjadi informan penelitian kualitatif. Ciri pertama adalah relevansi pengalaman. Orang itu harus benar-benar pernah mengalami, menyaksikan, atau terlibat dalam fenomena yang kamu teliti. Kalau tidak, jawaban yang diberikan cenderung umum dan dangkal.
Ciri kedua adalah kapasitas untuk bercerita atau menjelaskan. Dalam wawancara skripsi, kamu tidak cuma butuh jawaban “iya” atau “tidak”. Kamu butuh penjelasan, narasi, alasan, dan konteks. Karena itu, orang yang dipilih idealnya memang mampu mengungkapkan pengalaman atau sudut pandangnya dengan cukup jelas. Bukan berarti harus pintar bicara, tapi setidaknya mampu memberi data yang bisa dikembangkan.
Ciri ketiga adalah posisi yang relevan. Dalam beberapa topik, posisi seseorang sangat menentukan kualitas informasinya. Misalnya, kalau kamu meneliti proses pengambilan keputusan di organisasi, informan yang punya peran langsung dalam keputusan itu tentu lebih kuat dibanding orang yang hanya mendengar dari luar.
Ciri keempat adalah keterjangkauan dan keterbukaan. Ini bukan syarat utama, tapi tetap penting. Informan yang sangat relevan tapi tidak bisa diakses sama sekali akan sulit membantu penelitianmu. Di sisi lain, orang yang bisa diakses tapi sangat tertutup juga belum tentu memberi data yang cukup. Jadi ada keseimbangan antara relevansi dan kemungkinan untuk menggali data.
Ciri kelima adalah kecocokan dengan fokus penelitian, bukan sekadar dengan tema umumnya. Ini yang sering luput. Misalnya temamu tentang dunia kerja, tapi fokusmu sebenarnya pengalaman burnout pada pekerja muda. Maka informan yang paling tepat bukan semua pekerja, melainkan pekerja muda yang memang punya pengalaman burnout atau setidaknya berhadapan langsung dengan fenomena itu.
Purposive Sampling: Kenapa Sering Dipakai dalam Penelitian Kualitatif
Kalau kamu sering baca proposal atau jurnal kualitatif, kamu pasti sering ketemu istilah purposive sampling. Teknik ini sangat umum dipakai karena sesuai dengan logika penelitian kualitatif: peneliti memilih informan secara sengaja berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan fokus penelitian.
Kata kuncinya ada di “sengaja” dan “relevan”. Jadi, purposive sampling bukan asal tunjuk orang. Peneliti memilih karena ada alasan yang jelas. Misalnya, memilih mahasiswa semester akhir yang sedang menyusun skripsi, memilih pemilik usaha yang sudah menjalankan bisnis minimal tiga tahun, atau memilih guru yang pernah menangani kasus tertentu. Semua pilihan itu dibuat karena dianggap paling bisa memberi data yang dibutuhkan.
Kenapa teknik ini cocok? Karena penelitian kualitatif memang tidak bertumpu pada representasi statistik seperti penelitian kuantitatif. Yang dicari bukan sampel besar yang mewakili populasi secara angka, melainkan informan yang bisa membuka pemahaman mendalam terhadap fenomena. Jadi, purposive sampling sangat masuk akal untuk menjawab kebutuhan itu.
Masalahnya, banyak mahasiswa menulis purposive sampling di metodologi, tapi tidak menjelaskan kriterianya dengan cukup tegas. Akibatnya, tekniknya ada, tapi logikanya belum terlihat. Padahal dosen biasanya akan langsung bertanya: berdasarkan tujuan apa informan dipilih? Kriteria apa yang dipakai? Kenapa mereka yang dianggap relevan?
Kalau kamu ingin aman, jangan cuma tulis nama tekniknya. Jelaskan juga alasan dan kriterianya. Begitu kamu bisa menunjukkan bahwa pemilihan informan penelitian kualitatif dilakukan dengan pertimbangan yang jelas, bagian metodologimu akan terasa jauh lebih kuat.
Cara Menentukan Kriteria Informan yang Nggak Asal Tempel
Menentukan kriteria informan itu bukan soal bikin daftar yang terdengar formal. Kriterianya harus lahir dari fokus penelitianmu sendiri. Jadi, sebelum menulis kriteria, kamu perlu tanya dulu: pengalaman atau posisi seperti apa yang paling relevan untuk menjawab masalah saya?
Misalnya kamu meneliti pengalaman mahasiswa perantau yang bekerja sambil kuliah. Maka kriteria informannya bisa mencakup: mahasiswa aktif, tinggal jauh dari keluarga, sedang atau pernah bekerja sambil kuliah, dan berada di jenjang semester tertentu. Kriteria seperti ini lebih kuat daripada hanya menulis “mahasiswa.” Karena di situ sudah terlihat hubungan antara fokus penelitian dan pemilihan informan.
Contoh lain, kalau kamu meneliti strategi pemasaran digital UMKM kuliner, maka kriterianya bisa mencakup pemilik atau pengelola usaha, aktif menggunakan media sosial untuk promosi, dan menjalankan usaha minimal dalam rentang waktu tertentu. Lagi-lagi, kriterianya lahir dari kebutuhan data, bukan dari daftar acak.
Yang perlu dihindari adalah kriteria yang terlalu umum atau terlalu dekoratif. Misalnya menulis “orang yang bersedia diwawancarai” sebagai kriteria utama. Itu lebih tepat disebut syarat teknis, bukan kriteria substantif. Dalam penelitian kualitatif, yang paling penting adalah kualitas keterhubungan informan dengan fenomena yang diteliti.
Jadi waktu menyusun kriteria, jangan berpikir “apa yang harus saya tulis biar terlihat metodologis?” Tapi pikirkan, “orang seperti apa yang benar-benar bisa membantu saya memahami masalah penelitian ini?” Dari situ, kriteria biasanya jadi jauh lebih jernih.
Berapa Jumlah Informan yang Cukup dalam Penelitian Kualitatif?
Ini pertanyaan klasik yang hampir selalu muncul. Dan wajar, karena banyak mahasiswa terbiasa berpikir dalam logika angka. Mereka ingin tahu jumlah aman, jumlah minimal, atau jumlah ideal. Tapi dalam penelitian kualitatif, jawabannya tidak sesederhana “harus sekian orang.”
Jumlah informan penelitian kualitatif sangat tergantung pada fokus penelitian, kedalaman data yang dibutuhkan, keragaman perspektif, dan apakah data yang kamu dapat sudah cukup kaya atau belum. Jadi, ukuran “cukup” bukan ditentukan oleh angka bulat yang sama untuk semua topik, tapi oleh kualitas data yang terkumpul.
Kalau topikmu sangat spesifik dan informannya memang punya pengalaman yang kuat, kadang jumlah yang tidak terlalu banyak sudah cukup menghasilkan data yang dalam. Sebaliknya, kalau topiknya lebih kompleks dan melibatkan banyak sudut pandang, kamu mungkin perlu lebih banyak informan agar gambaran yang didapat tidak timpang.
Yang penting, jangan menjawab pertanyaan jumlah informan dengan gaya asal aman. Misalnya langsung bilang “minimal lima orang” hanya karena sering dengar itu. Dosen biasanya lebih suka penjelasan yang menunjukkan bahwa jumlah informan dipertimbangkan berdasarkan kebutuhan data, bukan berdasarkan kebiasaan umum.
Jadi kalau nanti ditanya, fokuslah pada logika. Jelaskan bahwa jumlah informan ditentukan sampai data yang dibutuhkan dianggap cukup untuk menjawab fokus penelitian. Cara menjawab seperti ini lebih jujur dan lebih cocok dengan karakter penelitian kualitatif daripada sekadar mengejar angka tertentu.
Kesalahan yang Paling Sering Terjadi Saat Memilih Narasumber Penelitian
Ada beberapa kesalahan yang sangat sering dilakukan mahasiswa saat memilih narasumber penelitian. Kesalahan pertama adalah memilih informan berdasarkan kedekatan pribadi. Karena kenal, karena mudah dihubungi, atau karena nyaman diajak bicara. Ini manusiawi, tapi belum tentu tepat untuk penelitian.
Kesalahan kedua adalah memilih orang yang tahu sedikit, tapi dianggap cukup karena posisinya terlihat penting. Misalnya, mewawancarai seseorang yang punya jabatan tinggi, tapi sebenarnya tidak terlibat langsung dalam fenomena yang sedang diteliti. Dalam penelitian kualitatif, jabatan tidak otomatis menjamin kedalaman data.
Kesalahan ketiga adalah semua informan berasal dari sudut pandang yang terlalu mirip. Akibatnya, data jadi repetitif dan kurang kaya. Kalau topikmu membutuhkan variasi pengalaman, maka informan juga perlu dipilih dengan mempertimbangkan keragaman sudut pandang, bukan hanya kemudahan akses.
Kesalahan keempat adalah terlalu cepat merasa data sudah cukup, padahal wawancaranya masih dangkal. Ini sering terjadi ketika peneliti belum benar-benar menggali. Jadi masalahnya bukan semata jumlah informan, tapi kualitas proses wawancaranya.
Kesalahan kelima adalah tidak punya alasan metodologis yang kuat saat ditanya. Padahal dalam wawancara skripsi, yang diuji bukan cuma hasil wawancara, tapi juga keputusan kenapa orang-orang itu yang dipilih. Kalau alasan ini lemah, kualitas penelitian ikut dipertanyakan.
Cara Menjelaskan Pemilihan Informan ke Dosen Biar Nggak Terlihat Asal
Waktu dosen bertanya kenapa kamu memilih informan tertentu, jangan jawab dengan gaya defensif atau terlalu normatif. Mulailah dari fokus penelitian. Jelaskan dulu fenomena yang kamu teliti, lalu sambungkan ke karakter informan yang paling relevan untuk membantu menjelaskan fenomena itu.
Misalnya, kamu bisa menjelaskan bahwa informan dipilih karena mereka memiliki pengalaman langsung terhadap masalah yang diteliti. Atau karena mereka memegang peran penting dalam proses yang sedang dianalisis. Atau karena mereka memenuhi kriteria yang memang ditetapkan berdasarkan kebutuhan penelitian. Jawaban semacam ini terasa jauh lebih matang daripada sekadar “karena mereka bersedia diwawancarai.”
Setelah itu, jelaskan tekniknya. Kalau kamu memakai purposive sampling, katakan bahwa pemilihan dilakukan secara sengaja berdasarkan kriteria tertentu. Lalu sebutkan kriterianya secara ringkas dan relevan. Ini penting supaya dosen melihat bahwa pemilihan informan penelitian kualitatif bukan hasil kebetulan.
Kalau penelitianmu juga melibatkan beberapa jenis informan, jelaskan fungsi masing-masing. Misalnya informan utama untuk pengalaman inti, dan informan pendukung untuk memperkaya konteks. Penjelasan seperti ini akan membuat desain kualitatifmu terasa lebih rapi.
Intinya, saat menjelaskan pemilihan narasumber penelitian, jangan fokus ke siapa orangnya dulu. Fokus ke alasan kenapa orang itu penting bagi penelitianmu. Dari situ, penjelasanmu akan terasa lebih metodologis dan lebih meyakinkan.
Biar Wawancara Skripsi Nggak Dangkal, Informannya Harus Tepat
Banyak mahasiswa terlalu fokus pada daftar pertanyaan, padahal kualitas wawancara skripsi sangat ditentukan juga oleh siapa yang diwawancarai. Bahkan panduan wawancara terbaik pun tetap bisa menghasilkan data yang tipis kalau informannya kurang tepat.
Informan yang tepat akan membuat wawancara berkembang. Jawabannya tidak hanya menjawab pertanyaan, tapi membuka konteks, memberi detail, dan kadang menunjukkan sisi yang sebelumnya tidak kamu pikirkan. Dari sinilah penelitian kualitatif mendapatkan kekuatannya. Bukan dari banyaknya kutipan, tapi dari kedalaman pemahaman yang muncul.
Sebaliknya, kalau informannya kurang tepat, wawancara sering terasa datar. Jawaban pendek, normatif, atau terlalu umum. Peneliti akhirnya terpaksa bekerja lebih keras menebak-nebak makna, padahal seharusnya data yang kuat justru membantu analisis jadi lebih jernih.
Itulah kenapa pemilihan informan penelitian kualitatif nggak boleh diperlakukan seperti urusan administratif. Ini bukan cuma bagian Bab 3 yang harus diisi, tapi salah satu penentu apakah hasil penelitianmu nanti benar-benar punya isi atau cuma terlihat ramai.
Kalau kamu ingin penelitianmu kuat, jangan buru-buru mencari orang yang “bisa diwawancarai”. Cari orang yang memang layak diwawancarai. Dua hal itu beda jauh.
Kalau Masih Ragu, Mulai dari Pertanyaan Ini
Kalau kamu masih bingung menentukan informan, coba mulai dari tiga pertanyaan sederhana. Pertama, siapa yang paling mengalami fenomena ini? Kedua, siapa yang paling tahu proses di balik fenomena ini? Ketiga, siapa yang bisa memberi sudut pandang yang benar-benar membantu saya menjawab fokus penelitian?
Dari tiga pertanyaan itu biasanya mulai kelihatan siapa yang pantas jadi informan utama, siapa yang cukup sebagai informan pendukung, dan siapa yang sebenarnya tidak terlalu relevan. Ini cara yang jauh lebih aman daripada sekadar mencari nama orang lebih dulu.
Setelah itu, cocokkan lagi dengan fokus penelitian dan metode skripsimu. Kalau semuanya terasa nyambung, besar kemungkinan kamu sudah berada di jalur yang benar. Kalau masih terasa kabur, jangan buru-buru jalan. Bereskan dulu logikanya sekarang, karena memperbaiki kesalahan di tahap awal selalu lebih murah daripada membongkar hasil wawancara setelah semuanya terlanjur dilakukan.
Penelitian kualitatif memang memberi ruang yang lebih fleksibel. Tapi fleksibel bukan berarti asal. Justru karena sifatnya mendalam, keputusan tentang informan harus makin hati-hati. Di sinilah kualitas penelitianmu mulai dibaca.
Pada akhirnya, informan penelitian kualitatif bukan sekadar orang yang bersedia diajak bicara. Mereka adalah sumber utama yang akan membantu kamu memahami fenomena secara lebih dalam, lebih manusiawi, dan lebih relevan dengan fokus penelitian. Karena itu, memilih narasumber penelitian tidak bisa hanya berdasarkan kemudahan akses atau kedekatan personal.
Kalau kamu sudah paham siapa yang benar-benar mengalami masalah yang diteliti, bisa menyusun kriteria yang relevan, tahu kapan memakai purposive sampling, dan mampu menjaga kualitas wawancara skripsi, maka penelitian kualitatifmu akan terasa jauh lebih kuat. Bukan cuma lebih rapi di Bab 3, tapi juga lebih meyakinkan saat masuk ke analisis dan pembahasan.
Jadi sebelum sibuk menyusun daftar pertanyaan, pastikan dulu satu hal penting ini sudah beres: siapa yang memang layak kamu dengarkan dalam informan penelitian kualitatif. Karena dalam penelitian kualitatif, kualitas jawaban sering kali dimulai dari ketepatan orang yang kamu pilih untuk bicara.




