Pernah gak sih, kamu lagi asik nulis skripsi atau artikel, terus sampai di bagian daftar pustaka langsung blank? Rasanya ribet, penuh aturan, dan kalau salah titik koma aja bisa dimarahin dosen pembimbing. Tenang, kamu nggak sendirian. Banyak mahasiswa yang awalnya bingung soal cara buat dapus dari jurnal karena ternyata ada banyak aturan yang harus dipatuhi.
Nah, kabar baiknya, bikin daftar pustaka itu nggak sesulit yang kamu bayangkan kok, asal tahu trik dan sistemnya. Artikel ini bakal jadi panduan lengkap buat kamu, mulai dari konsep dasar, cara catat data penting, aturan gaya penulisan, sampai tips biar dapusmu rapi dan nggak bikin sakit kepala. Kita juga bakal bahas cara buat referensi dari jurnal, cara memasukkan jurnal ke daftar pustaka, sampai contoh real-nya. Jadi setelah baca, kamu nggak bakal bingung lagi!
Daftar Isi
ToggleKenapa Cara Buat Dapus dari Jurnal Itu Penting Banget?

Sebelum masuk ke teknis, kita bahas dulu nih, kenapa sih daftar pustaka itu harus rapi dan lengkap.
- Daftar pustaka adalah bukti kalau tulisanmu itu ilmiah dan berbasis data, bukan cuma opini pribadi. Misalnya, kamu nulis tentang pengaruh media sosial ke prestasi mahasiswa. Kalau nggak ada referensi dari jurnal, tulisanmu bakal dianggap “katanya-katanya” aja. Dengan dapus yang lengkap, tulisanmu punya dasar ilmiah yang jelas.
- Daftar pustaka adalah bentuk penghargaan ke penulis asli. Bayangin kalau idemu dipakai orang lain tapi nggak pernah disebutin sumbernya, pasti kesal kan? Nah, begitu juga dengan penulis jurnal. Menyebutkan sumber artinya kamu menghargai jerih payah mereka.
- Daftar pustaka bisa jadi panduan buat pembaca lain. Misalnya, ada orang yang baca skripsimu dan tertarik memperdalam topik yang sama. Dengan dapus yang jelas, dia bisa langsung melacak sumbernya tanpa ribet.
- Dapus juga melindungi kamu dari tuduhan plagiarisme. Plagiarisme itu bukan main-main, bisa bikin skripsi ditolak bahkan gelar dibatalkan. Jadi jangan sampai ada kutipan yang lupa kamu masukin ke daftar pustaka.
- Dapus yang rapi bikin tulisanmu kelihatan lebih profesional. Dosen, reviewer, atau bahkan pembaca umum bisa langsung melihat keseriusanmu dalam menulis. Jadi walau terlihat sepele, daftar pustaka sebenarnya punya peran besar banget dalam kualitas penelitianmu.
Catat Info Penting Sejak Awal
Ini nih rahasia yang sering disepelekan mahasiswa: jangan tunggu sampai akhir buat bikin dapus. Biasanya kan kita suka nunda, baru pas mau submit skripsi panik karena daftar pustakanya berantakan. Padahal kalau dicatat sejak awal, hidupmu bakal jauh lebih ringan. Setiap kali kamu baca artikel jurnal yang relevan, langsung catat detail pentingnya. Minimal ada 7 data yang harus kamu kumpulkan:
- Nama penulis (nama belakang, lalu nama depan)
- Tahun terbit
- Judul artikel
- Nama jurnal
- Volume dan nomor edisi
- Halaman artikel
- DOI (Digital Object Identifier)
Kenapa ini penting? Karena setiap gaya penulisan daftar pustaka (APA, MLA, Chicago, Harvard, dll.) pasti minta data ini. Kalau datanya lengkap sejak awal, nanti tinggal susun sesuai gaya yang dipakai kampusmu. Misalnya, kamu nemu artikel di Google Scholar. Jangan cuma baca lalu skip. Klik tanda kutip di bawah artikel, di situ biasanya sudah ada opsi gaya sitasi. Tinggal copy, tapi jangan lupa cek detailnya ya, kadang ada format yang meleset.
Tips tambahan: pakai aplikasi manajemen referensi kayak Mendeley atau Zotero. Tinggal klik “Save to Library”, semua data otomatis masuk, bahkan dengan file PDF-nya. Jadi kamu nggak perlu ketik manual lagi.
Tentukan Gaya Penulisan
Nah, ini bagian yang sering bikin mahasiswa bingung. Cara buat sumber dari jurnal itu nggak ada format tunggal, semua tergantung aturan kampus atau jurnal tujuanmu. Gaya yang paling populer ada empat:
- APA (American Psychological Association) → biasanya dipakai buat ilmu sosial, psikologi, pendidikan.
- MLA (Modern Language Association) → sering dipakai di bidang sastra dan humaniora.
- Chicago/Turabian → fleksibel, bisa dipakai di banyak bidang termasuk sejarah.
- Harvard Style → mirip-mirip APA tapi punya aturan detail yang sedikit beda.
Contoh kalau kamu pakai APA Style:
Nama penulis. (Tahun). Judul artikel. Nama Jurnal, Volume(Nomor), Halaman. DOI
Kalau pakai MLA Style:
Nama penulis. “Judul Artikel.” Nama Jurnal, vol. Volume, no. Nomor, Tahun, pp. Halaman. DOI
Lihat kan bedanya? Tanda baca, italic, urutan data, semua beda. Makanya, jangan sampai salah pilih.
Sebelum bikin dapus, tanyakan dulu ke dosen atau cek pedoman penulisan kampusmu. Kalau salah gaya, bisa-bisa dapusmu disuruh revisi total.
Susun Sesuai Format dan Jaga Detailnya
Setelah tahu gaya penulisan, sekarang waktunya susun data yang udah kamu catat. Ini bagian yang butuh ketelitian ekstra. Kenapa? Karena salah titik atau salah kapital aja bisa bikin kelihatan asal-asalan. Misalnya, kalau kamu pakai gaya APA:
- Judul jurnal harus italic
- Judul artikel hanya huruf pertama yang kapital (kecuali nama diri)
- Tahun harus dalam tanda kurung
Contoh:
Rahman, A. (2020). Pengaruh media sosial terhadap gaya hidup mahasiswa. Jurnal Komunikasi Digital, 5(2), 112-124. https://doi.org/xxxx
Kalau kamu salah bikin, misalnya judul artikel kamu italic-in juga, itu udah termasuk salah format. Jadi jangan anggap remeh hal kecil ini. Tips lain: selalu cek konsistensi. Jangan sampai ada satu referensi yang pakai titik koma, satunya pakai koma. Keliatan banget berantakan.
Strategi Optimasi Daftar Pustaka Biar Rapi
Kalau di Bagian 1 tadi kita ngomongin teknik polesan biar daftar pustaka nggak kelihatan “asal jadi”, sekarang aku mau kasih tips biar kamu efisien banget dalam nyusun daftar pustaka. Karena jujur aja, banyak mahasiswa yang telat sadar kalau daftar pustaka itu bukan sekadar pelengkap, tapi bisa jadi faktor revisi paling banyak.
1. Gunakan Tools Referensi Biar Nggak Manual Terus
Kalau masih ngetik manual daftar pustaka satu per satu, siap-siap gempor. Sekarang udah ada tools kayak Mendeley, Zotero, EndNote, atau fitur bawaan Google Docs/Word. Tinggal klik–klik, semua langsung rapi sesuai gaya sitasi yang kamu pilih (APA, MLA, Chicago, dll.).
- Misalnya, di Mendeley kamu bisa impor file
.risatau.bibdari Scopus atau Google Scholar, otomatis masuk ke library. - Kalau pakai Zotero, kamu bisa simpan langsung dari browser saat nemu jurnal yang relevan.
- Bonusnya, tools ini bisa langsung sinkron sama Word atau LibreOffice, jadi tinggal insert citation → otomatis keluar di daftar pustaka.
2. Pastikan Konsisten Gaya Sitasi
Kesalahan fatal mahasiswa biasanya: di awal pakai APA, di tengah nyasar ke Harvard, di akhir jadi campuran random. Jangan sampai kayak gitu.
- Kuncinya pilih 1 style aja dari awal. Kalau kampus minta APA edisi 7, ya jangan dicampur dengan MLA.
- Simpel: bikin template di Word/Docs atau set default style di Mendeley/Zotero biar konsisten.
3. Simpan Metadata Jurnal Sejak Awal
Ini sering disepelekan, padahal krusial. Metadata itu kayak judul lengkap artikel, nama penulis, tahun, volume, issue, DOI, nama jurnal, penerbit.
- Kalau kamu nyari di Scopus/Scholar, langsung copy ke tools referensi.
- Jangan cuma simpan PDF tanpa info detail, nanti pas revisi bisa bikin nangis.
- Tips tambahan: selalu cek ulang nama penulis (kadang beda di Scholar dan Scopus).
4. Urutkan Secara Alfabetis
Ini hal basic, tapi masih banyak yang salah. Daftar pustaka selalu diurutkan berdasarkan abjad nama belakang penulis.
- Contoh: “Anderson” harus muncul sebelum “Brown”.
- Kalau satu penulis ada beberapa karya, urutkan berdasarkan tahun terbit.
- Tools referensi biasanya udah otomatis, tapi kalau manual ya jangan males ngecek.
- 5. Gunakan Fitur “Find & Replace” untuk Konsistensi
Suka ada detail kecil yang beda—misalnya ada yang nulis “Vol.” ada juga yang langsung “Volume”, atau ada yang pakai titik di DOI, ada yang enggak.
- Caranya: pakai Ctrl + F / Find & Replace di dokumen buat nyamain istilah.
- Ini lifesaver banget kalau kamu lagi revisi mepet deadline.
6. Cek Kelengkapan dengan CrossRef atau DOI Checker
Salah satu hal yang bikin dosen sebel adalah daftar pustaka “setengah jadi”. Misalnya: ada judul tapi nggak ada DOI, atau ada volume tapi nggak ada halaman.
- Solusinya: gunakan CrossRef (https://www.crossref.org/guestquery/) buat ngecek apakah DOI valid.
- Bisa juga pakai DOI checker otomatis dari Mendeley/Zotero.
7. Jangan Lupa Sinkronisasi dengan Sitasi di Teks
Ini yang sering bikin mahasiswa “ketahuan nyontek” atau asal copas: daftar pustaka banyak, tapi di teks nggak pernah disitasi. Atau kebalikannya, di teks ada sitasi tapi di daftar pustaka hilang.
- Rajin-rajin cek pakai fitur “Check citation & bibliography” di tools referensi.
- Kalau manual, kamu bisa pakai trik Ctrl + F buat ngecek nama penulis apakah muncul di body text.
Strategi Jitu Memilih Jurnal yang Relevan dan Berkualitas
1. Kenali Kebutuhan Penelitianmu Terlebih Dahulu
Sebelum asal comot jurnal, kamu harus tahu dulu apa kebutuhan skripsi atau penelitianmu. Misalnya, apakah kamu lagi butuh landasan teori, penelitian terdahulu yang mirip, atau data pendukung? Ini penting, karena seringkali mahasiswa asal kumpulin jurnal tanpa sadar ternyata referensinya nggak nyambung. Kalau dosen tanya, “ini relevansinya apa dengan topikmu?” nah, di situ sering blank. Dengan tahu kebutuhan sejak awal, kamu bisa lebih terarah dan hemat waktu.
2. Utamakan Jurnal dengan Reputasi Terpercaya
Nggak semua jurnal punya kualitas yang sama. Ada jurnal internasional bereputasi seperti Scopus atau Web of Science, ada juga jurnal nasional terakreditasi SINTA. Pilih yang sesuai dengan kebutuhanmu dan level penelitianmu. Kalau skripsi S1 biasanya cukup pakai kombinasi jurnal SINTA + Scopus minimal Q3–Q4. Kalau tesis atau disertasi, usahakan ambil Scopus Q1–Q2 biar makin kuat secara akademik. Ingat, kualitas jurnal ini bukan cuma soal gaya bahasa, tapi juga metodologi dan validitas data yang mereka pakai.
3. Periksa Fokus dan Scope Jurnal
Setiap jurnal punya scope sendiri. Ada yang fokus di pendidikan, ada yang di hukum, ada juga yang di sosial politik. Jadi jangan sampai kamu ngutip dari jurnal kedokteran untuk bahas skripsi hukum tata negara. Trik gampangnya: cek “Aim and Scope” di situs jurnalnya. Kalau topikmu nyambung, lanjut. Kalau nggak, lebih baik skip biar referensimu nggak keliatan “maksa”.
4. Lihat Tahun Terbit dan Update Referensi
Dosen suka banget lihat referensi yang up-to-date. Kalau bisa, gunakan jurnal 5 tahun terakhir biar kelihatan bahwa penelitianmu relevan dengan kondisi terbaru. Meski begitu, jangan buang mentah-mentah jurnal lama. Beberapa teori dasar memang adanya di artikel lama. Jadi boleh aja masukin, asal dikombinasi dengan referensi terbaru. Balance is the key.
5. Cek Kredibilitas Penulis dan Institusi
Penulis yang berasal dari universitas atau lembaga riset ternama biasanya punya karya yang lebih teruji. Misalnya, artikel yang ditulis oleh dosen UGM, UI, ITB, atau Harvard tentu punya nilai lebih dibanding artikel dari jurnal abal-abal yang bahkan kita nggak tahu universitasnya di mana.
Ini bisa kamu cek dengan gampang lewat Google Scholar. Kalau nama penulisnya muncul dengan banyak sitasi, itu tandanya karyanya dipercaya banyak orang.




