Pernah nggak sih kamu ngerasa pusing pas diminta dosen buat nyusun literatur skripsi? Apalagi kalau udah masuk ke bagian tinjauan pustaka, rasanya kayak nyemplung ke lautan jurnal tanpa pelampung. Nah, biar nggak tenggelam, salah satu cara yang bisa kamu pakai adalah literatur review sistematis.
Jadi gini, literatur skripsi itu sebenarnya bukan sekadar kumpulan kutipan dari buku atau jurnal aja, tapi harus terstruktur, jelas, dan punya tujuan. Kalau asal comot sana-sini, bukannya bikin penelitianmu kuat, malah bikin dosen penguji bingung: “Ini maunya nyambungin apa, ya?” Nah, biar kamu aman, pakailah metode literatur review sistematis.
Di artikel ini aku bakal kupas tuntas gimana cara bikin review sistematis ala mahasiswa keren, mulai dari bikin protokol penelitian, strategi pencarian, sampai tahap laporan akhir yang bisa bikin dosen angkat jempol. Kita juga bakal bahas framework populer kayak PRISMA yang biasa dipakai biar review kamu rapi dan bisa dipertanggungjawabkan. Jadi, siap-siap karena kita bakal ngobrol panjang lebar kayak lagi nongkrong di kafe, cuma bedanya bahasannya soal skripsi.
Daftar Isi
ToggleKenalan Sama Literatur Review Sistematis
Oke, sebelum kita masuk ke teknis, kenalan dulu yuk. Apa sih sebenarnya literatur review sistematis itu? Bayangin kamu lagi nyusun cerita dari potongan-potongan puzzle. Literatur review sistematis ini tuh cara buat nyari, milih, dan nyatuin hasil-hasil penelitian sebelumnya jadi satu gambar besar yang jelas. Jadi bukan sekadar ngumpulin kutipan random, tapi lebih kayak bikin rangkuman super rapi dan berbobot.
Beda banget sama tinjauan pustaka biasa yang sering kita lihat di skripsi mahasiswa. Kalau tinjauan pustaka biasanya cuma sekadar: “A bilang gini, B bilang gitu,” tanpa urutan yang jelas, review sistematis ini pake aturan main. Ada kriteria, ada protokol, ada alurnya. Jadi hasil akhirnya nggak cuma informatif, tapi juga bisa jadi fondasi kuat buat penelitian kamu sendiri.
Kenapa penting? Karena lewat metode ini, kamu bisa nemuin research gap alias celah penelitian. Misalnya, ternyata udah banyak penelitian tentang pembelajaran daring, tapi jarang banget yang bahas soal motivasi mahasiswa di daerah rural. Nah, celah itulah yang bisa kamu jadikan dasar buat bikin topik skripsi. Jadi bukan cuma ngulang penelitian orang, tapi bener-bener nyumbang insight baru.
Kalau aku ibaratkan, literatur review sistematis itu kayak masak resep favorit. Kamu nggak asal campur bahan, tapi ada step by step: mulai dari milih bahan, ngukur takaran, sampai teknik masaknya. Hasilnya pun lebih terjamin enak. Nah, dalam dunia akademik, hasil yang “enak” ini adalah review yang rapi, valid, dan bisa dipakai sebagai pijakan teori.
Satu lagi yang nggak kalah penting, review sistematis bikin penelitianmu lebih gampang dipertanggungjawabkan. Karena semua prosesnya jelas: mulai dari pencarian, seleksi, sampai analisis. Jadi kalau ada dosen killer nanya, “Kenapa kamu pilih artikel ini, bukan yang lain?” kamu bisa dengan santai jawab berdasarkan protokol yang kamu buat. Kebayang kan bedanya?
Singkatnya, literatur skripsi lewat review sistematis itu bukan cuma formalitas, tapi strategi biar penelitianmu punya bobot ilmiah yang kuat. Jadi kalau ada mahasiswa lain yang masih bingung, kamu bisa dengan pede bilang, “Santai aja, gue udah pake metode sistematis.”
3. Screening Artikel dengan PRISMA
Pernah nggak kamu ngerasa pusing gara-gara artikel yang kamu kumpulin kebanyakan? Nah, di sinilah fungsi screening artikel dengan PRISMA muncul jadi penyelamat. PRISMA alias Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses itu semacam panduan visual dan terstruktur buat nyaring artikel yang bener-bener relevan.
Bayangin kayak kamu lagi belanja di marketplace. Dari ribuan produk yang muncul, nggak mungkin semuanya kamu beli kan? Nah, kamu pasti pakai filter: harga, rating, atau lokasi toko. Sama halnya dengan PRISMA, cuma bedanya kita lagi filter artikel ilmiah.
Di tahap awal, prosesnya disebut identification. Di sini, kamu kumpulin semua hasil pencarian dari database kayak Scopus, Google Scholar, sampai DOAJ. Hasilnya bisa ratusan bahkan ribuan. Tapi jangan panik dulu. Tahap ini memang sekadar ngumpulin bahan mentah.
Setelah itu, masuk ke tahap screening. Di sini kamu mulai pilah-pilah. Artikel yang dobel harus dihapus, artikel yang cuma opini juga harus out, apalagi yang nggak sesuai sama topikmu. Kayak lagi nge-unfollow akun-akun random yang nggak relevan sama hidupmu. Tujuannya jelas: biar daftar bacaanmu makin rapi.
Contoh: kamu nemuin 1.200 artikel dari hasil pencarian awal. Setelah ngehapus duplikat, tinggal 950. Dari situ, kamu cek judul sama abstraknya, eh ternyata cuma 250 yang beneran nyambung. Jadi, PRISMA ini bener-bener ngebantu kamu supaya proses review literatur skripsi lebih terarah dan transparan.
4. Assessment Kelayakan dan Ekstraksi Data
Nah, setelah artikel udah disaring, sekarang waktunya baca full-text alias artikel lengkap. Bagian ini emang agak berat karena butuh waktu dan fokus, tapi percayalah ini investasi buat hasil skripsi yang solid.
Kenapa assessment ini penting? Karena nggak semua artikel punya kualitas yang sama. Ada yang metodologinya rapi, ada juga yang ngaco. Kamu harus jeli milih mana yang layak dipakai. Sama kayak kalau kamu lagi milih bahan buat masak. Kalau bahannya busuk, hasil masakannya pasti nggak enak.
Poin yang harus kamu perhatikan:
- Apakah metodologinya jelas?
- Apakah data yang ditampilkan lengkap?
- Apakah konteks penelitiannya sesuai dengan topikmu?
Misalnya, dari 250 artikel yang tadi lolos screening, setelah dibaca full-text ternyata cuma 60 yang layak dipakai. Nah, 60 inilah yang bakal jadi bahan utama kamu.
Biar makin gampang, kamu bisa bikin tabel ekstraksi data. Tabel ini isinya kayak nama penulis, tahun penelitian, metode yang dipakai, jumlah sampel, dan hasil utamanya. Jadi, saat analisis nanti, kamu tinggal buka tabel itu tanpa harus bolak-balik baca artikel tebal-tebal.
Contoh:
| Penulis | Tahun | Metode | Sampel | Hasil Utama |
|---|---|---|---|---|
| Yusuf | 2023 | Kuantitatif | 200 | Ada peningkatan hasil belajar 15% |
Kalau kamu konsisten bikin tabel kayak gini, proses review literatur skripsi kamu bakal jauh lebih gampang, efisien, dan tentunya lebih meyakinkan di mata dosen pembimbing.
5. Analisis dan Sintesis Hasil

Oke, sekarang kita sampai di tahap yang paling seru sekaligus krusial: analisis dan sintesis hasil. Bayangin aja, kamu udah ngumpulin bahan-bahan dari berbagai penelitian, sekarang waktunya bikin masakan spesial dari semua itu.
Ada dua cara utama yang biasanya dipakai: analisis tematik dan meta-analisis.
a. Analisis Tematik
Analisis tematik itu kayak nyusun hasil penelitian berdasarkan tema-tema tertentu. Misalnya, kalau topikmu tentang pembelajaran daring, kamu bisa bikin tema besar “Efektivitas Pembelajaran Daring”. Nah, dari situ bisa dibagi lagi ke subtema kayak “hasil akademik mahasiswa” atau “kepuasan mahasiswa”.
Contohnya, ada lima artikel yang bahas kepuasan mahasiswa. Kamu tinggal gabungin insight mereka, lalu kasih kesimpulan sementara: apakah rata-rata mahasiswa puas atau malah merasa terbebani dengan pembelajaran daring.
b. Meta-Analisis
Kalau kamu punya banyak data numerik dari berbagai studi, kamu bisa lanjut ke meta-analisis. Ini lebih kuantitatif karena pakai statistik. Misalnya, kamu hitung rata-rata effect size dari penelitian-penelitian yang ada. Hasilnya bisa nunjukkin seberapa besar pengaruh pembelajaran daring terhadap hasil belajar mahasiswa secara umum.
Contoh:
- Effect size: 0.7
- Confidence interval: 0.6–0.8
- p-value: < 0.001
Data ini nunjukkin bahwa pembelajaran daring punya pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar. Nah, angka-angka ini bikin literatur skripsi kamu jadi lebih kuat, karena bukan cuma opini tapi ada bukti statistiknya.
Intinya, tahap analisis ini bikin semua kerja kerasmu dari awal jadi nggak sia-sia. Dari kumpulan artikel yang tadinya cuma numpuk, sekarang jadi insight yang jelas, terarah, dan siap dipakai sebagai dasar penelitianmu.
6. Quality Assessment (Menilai Kualitas Artikel)
Nah, bagian ini sering disepelekan mahasiswa, padahal super penting. Quality assessment alias penilaian kualitas artikel berguna supaya kamu nggak asal comot literatur. Ingat ya, skripsi itu bukan sekadar banyak-banyakan referensi, tapi juga tentang kualitas.
Pertama, kamu harus cek kredibilitas jurnal. Artikel yang dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi kayak Scopus Q1-Q4 jelas punya bobot lebih dibanding artikel di blog pribadi. Tapi bukan berarti jurnal nasional nggak penting, asalkan masuk Sinta 1–2, itu masih oke banget buat skripsi.
Kedua, periksa metodologi penelitian. Misalnya, penelitian dengan sampel 1.000 orang tentu lebih representatif dibanding penelitian dengan sampel cuma 10 orang. Atau, penelitian dengan metode campuran (mixed methods) biasanya lebih kaya insight ketimbang hanya kualitatif deskriptif.
Ketiga, lihat tahun publikasi. Referensi yang terlalu lama bisa bikin skripsimu dibilang nggak update. Idealnya, pakai artikel 5–10 tahun terakhir. Kecuali memang teori klasik, itu masih boleh dipakai sebagai dasar.
Keempat, cek juga relevansi konteks penelitian. Misalnya, penelitian tentang pembelajaran daring di Amerika belum tentu 100% bisa diterapkan di Indonesia. Jadi, kamu harus kritis apakah hasil penelitian tersebut bener-bener cocok jadi bahan skripsimu.
Contoh kasus: kamu nemu artikel tentang metode pembelajaran di Harvard tahun 2005. Dari sisi kualitas jurnal oke, tapi dari sisi relevansi? Agak kurang, karena konteks sosial dan teknologinya jauh beda sama kondisi Indonesia 2025. Nah, inilah pentingnya quality assessment biar kamu nggak salah ambil literatur.
7. Menyusun Laporan Review
Setelah semua proses panjang itu, sekarang waktunya kamu menyusun laporan review alias nulis bagian tinjauan pustaka di skripsi. Bagian ini sering bikin mahasiswa keringetan karena bingung harus mulai dari mana.
Triknya, kamu bisa pakai pola funnel alias corong. Mulai dari bahasan yang paling umum, lalu makin spesifik ke topik penelitianmu. Misalnya, kamu bahas dulu tren pendidikan global, lanjut ke pendidikan di Indonesia, baru masuk ke fokus spesifik penelitianmu.
Susunan laporan biasanya kayak gini:
- Pendahuluan – jelaskan kenapa topikmu penting dan relevan.
- Hasil Review Literatur – paparkan temuan-temuan dari artikel yang udah kamu analisis, bisa dibagi per tema.
- Kesenjangan Penelitian (Research Gap) – tunjukkan apa yang belum diteliti dan di situlah skripsimu masuk.
- Kerangka Teori – hubungkan dengan teori-teori yang relevan.
- Ringkasan – simpulkan secara singkat arah penelitianmu.
Contoh alurnya:
“Kebanyakan penelitian tentang pembelajaran daring menunjukkan peningkatan fleksibilitas belajar (Yusuf, 2023; Anita, 2024). Namun, sedikit penelitian yang membahas dampaknya pada kesehatan mental mahasiswa. Oleh karena itu, penelitian ini akan mengkaji hubungan antara pembelajaran daring dan stres akademik mahasiswa.”
Lihat kan? Dari situ dosen pembimbing bakal paham bahwa kamu bukan cuma asal ngumpulin literatur, tapi bener-bener kritis dan punya arah penelitian yang jelas.
8. Tips Anti Ribet Biar Nggak Nyasar
Biar makin gampang, aku kasih beberapa tips praktis yang sering dipakai mahasiswa bimbingan:
- Selalu catat referensi sejak awal, jangan nunggu nanti.
- Gunakan reference manager kayak Mendeley atau Zotero biar nggak pusing bikin daftar pustaka.
- Jangan lupa simpan catatan hasil bacaan dalam bentuk poin-poin singkat.
- Kalau bisa, konsultasi ke tutor atau senior biar dapat insight tambahan.
- Rajin ngecek ke dosen pembimbing biar nggak salah arah.
Kalau kamu udah konsisten pakai cara ini, review literatur skripsi kamu dijamin rapi, sistematis, dan nggak bikin kepala mumet. Plus, peluang acc dari dosen pembimbing juga lebih besar.