1. Home
  2. »
  3. Skripsi
  4. »
  5. Pendahuluan Skripsi Bukan Sekadar Formalitas: 5 Panduan Gaul Biar Skripsimu Gak Ngebosenin

Data Sekunder: 5 Panduan Lengkap untuk Skripsi Mahasiswa Semester Akhir

Kalau kamu mahasiswa tingkat akhir yang lagi bergelut dengan skripsi, pasti pernah denger istilah data sekunder. Buat sebagian orang, istilah ini kayaknya terdengar rumit dan cuma bikin pusing kepala. Apalagi kalau kamu udah masuk tahap pengolahan data, rasanya istilah ini muncul terus dan nggak bisa dihindari.

Padahal, kalau dipahami dengan benar, data sekunder justru bisa jadi penyelamat buat kamu yang pengen ngerjain skripsi lebih efisien. Banyak skripsi yang menggunakan data sekunder sukses karena peneliti tahu cara memanfaatkannya. Nggak heran kalau ada banyak contoh skripsi dengan data sekunder yang berkualitas tinggi di perpustakaan kampus, dan semuanya punya kesamaan: penulisnya paham cara memilih, mengolah, dan menganalisis data yang udah dikumpulin orang lain sebelumnya.

Di artikel ini, kita bakal bahas tuntas apa itu data sekunder, dari definisi sampai tips maksimalin penggunaannya di skripsi. Nggak cuma itu, setiap bagian bakal kita bedah jadi pembahasan detail biar kamu nggak cuma tahu teorinya, tapi juga ngerti aplikasinya. Jadi, kalau kamu siap, yuk kita mulai bahas dari dasarnya dulu.

Apa Itu Data Sekunder dan Kenapa Penting untuk Skripsi?

data sekunder

Bayangin kamu lagi mau bikin penelitian tentang tingkat kemiskinan di suatu daerah selama 10 tahun terakhir. Kalau kamu harus turun langsung ke lapangan dan wawancara ribuan orang, jelas makan waktu, tenaga, dan biaya gede. Nah, di sinilah data sekunder jadi solusi.

Data sekunder adalah data yang udah dikumpulin pihak lain sebelumnya, lalu kamu pakai untuk penelitianmu. Artinya, kamu nggak perlu repot-repot mengumpulkan data mentah sendiri. Misalnya, kamu bisa pakai data dari BPS, laporan tahunan perusahaan, arsip pemerintah, atau hasil survei sebelumnya.

Kenapa ini penting?

  1. Hemat waktu & biaya – Kamu nggak perlu keluar uang dan tenaga besar untuk ngumpulin data dari nol.
  2. Data biasanya sudah rapi – Banyak lembaga resmi sudah menyajikan data dalam format yang siap diolah.
  3. Memungkinkan penelitian skala besar – Kamu bisa analisis tren jangka panjang atau wilayah luas yang mustahil dicapai dengan data primer.
  4. Memperkuat penelitian – Kalau digabung dengan data primer, hasilnya bisa lebih kredibel.
  5. Berguna untuk topik tertentu – Beberapa penelitian memang hampir selalu pakai data sekunder, misalnya di bidang ekonomi, sejarah, dan studi kebijakan.

Buat kamu yang lagi nyari ide skripsi yang menggunakan data sekunder, pahami dulu jenis-jenis datanya. Ada data kuantitatif seperti angka-angka statistik, ada juga data kualitatif seperti dokumen, transkrip wawancara, atau berita lama. Semua tergantung kebutuhan penelitianmu.

Sumber-Sumber Data Sekunder yang Wajib Kamu Tahu

Banyak mahasiswa stuck di sini. Mereka tahu butuh data sekunder, tapi bingung nyarinya di mana. Padahal, kalau tahu trik dan sumber yang tepat, ngumpulin data ini bisa gampang banget. Berikut adalah sumber-sumber utama yang bisa kamu manfaatkan:

a. Publikasi Pemerintah
Salah satu sumber terbaik adalah lembaga pemerintah. Contohnya BPS yang nyediain data ekonomi, sosial, dan demografi lengkap. Kementerian Kesehatan punya data kesehatan nasional. Kementerian Perdagangan punya data ekspor-impor. Keunggulannya? Data ini resmi, kredibel, dan sering gratis diakses.

b. Jurnal Ilmiah
Kalau kamu sering baca penelitian terdahulu, sebenarnya itu juga termasuk data sekunder. Misalnya, ada penelitian tentang pola konsumsi rumah tangga yang datanya bisa kamu pakai buat skripsimu. Kamu bisa akses lewat Google Scholar, ResearchGate, atau portal jurnal kampus.

c. Laporan Industri
Banyak perusahaan dan lembaga riset nerbitin laporan tahunan yang isinya data super lengkap. Cocok banget kalau skripsimu di bidang bisnis atau manajemen.

d. Buku Teks dan Ensiklopedia
Buku akademik kadang punya data rangkuman hasil penelitian puluhan tahun. Ini bisa jadi sumber valid untuk landasan teorimu.

e. Database Online
Platform kayak World Bank Data, Statista, dan Our World in Data punya kumpulan data yang bisa diunduh gratis dan langsung diolah.

f. Hasil Survei Sebelumnya
Survei nasional kayak Susenas atau Riskesdas sering dipakai mahasiswa sebagai basis data penelitian.

g. Dokumen Historis
Kalau topikmu sejarah, arsip surat kabar atau dokumen lama di perpustakaan bisa jadi sumber emas.

Cara Mengumpulkan Data Sekunder dengan Efektif

Banyak mahasiswa kira ngumpulin data sekunder itu tinggal klik-klik di Google, lalu selesai. Padahal kalau mau skripsimu kuat secara metodologi, prosesnya butuh strategi biar datanya relevan, valid, dan sesuai sama tujuan penelitian.

Berikut langkah-langkah efektifnya:

Langkah 1 – Tentukan Kebutuhan Data Sejak Awal

Sebelum mulai cari, pastiin dulu kamu tahu persis data apa yang dibutuhin. Ini termasuk:

  • Jenis data (kuantitatif atau kualitatif)
  • Periode waktu (misalnya data 5 tahun terakhir)
  • Wilayah cakupan (lokal, nasional, internasional)
  • Format data (tabel, grafik, teks)

Contoh: Kalau kamu bikin skripsi yang menggunakan data sekunder tentang “Pengaruh Inflasi terhadap Daya Beli Masyarakat di Jakarta 2015–2020”, berarti kamu harus cari data inflasi dan daya beli khusus untuk wilayah Jakarta pada periode tersebut.

Kenapa ini penting? Karena tanpa batasan jelas, kamu bisa buang banyak waktu nyari data yang ujung-ujungnya nggak terpakai.

Langkah 2 – Pilih Sumber Data yang Kredibel

Jangan cuma ambil dari blog pribadi atau sumber nggak jelas. Pastikan data yang kamu ambil berasal dari:

  • Lembaga resmi pemerintah
  • Organisasi internasional
  • Jurnal ilmiah yang terindeks
  • Laporan industri yang diakui

Kalau bisa, pakai sumber yang peer-reviewed atau punya reputasi baik. Misalnya untuk data kesehatan, pakai Riskesdas atau WHO; untuk data ekonomi, pakai BPS atau World Bank.

Langkah 3 – Gunakan Teknik Pencarian yang Tepat

Cari data di Google itu perlu trik:

  • Gunakan tanda kutip (“…”) untuk pencarian spesifik
  • Gabungkan kata kunci, misalnya: "data sekunder" site:bps.go.id
  • Manfaatkan filter tahun untuk dapat data terbaru

Kalau cari contoh skripsi dengan data sekunder, coba gunakan kata kunci di repositori kampus, seperti "skripsi data sekunder" site:repository.universitas.ac.id.

Langkah 4 – Catat Sumber dengan Rapi

Setiap kali nemu data, langsung catat sumbernya beserta tanggal akses. Ini akan memudahkan kamu saat bikin daftar pustaka. Banyak mahasiswa repot di akhir karena lupa nyimpen sumber data yang udah dipakai.

Kalau mau praktis, kamu bisa pakai Mendeley atau Zotero biar semua sumber langsung tersimpan rapi.

Langkah 5 – Cek Konsistensi Data

Kadang, data dari dua sumber bisa berbeda untuk periode yang sama. Misalnya, jumlah penduduk versi BPS bisa beda tipis sama data dari Kementerian Dalam Negeri. Nah, kamu harus putuskan mau pakai yang mana, dan jelaskan alasannya di metode penelitian skripsimu.

Kelebihan dan Kelemahan Data Sekunder

Kalau ngomongin data sekunder buat skripsi, pasti ada plus-minusnya. Sama seperti metode penelitian lainnya, data ini bisa jadi senjata ampuh kalau dimanfaatkan dengan benar, tapi bisa juga jadi bumerang kalau asal ambil.

Kelebihan Data Sekunder

  1. Lebih Hemat Waktu dan Biaya
    Karena datanya udah tersedia, kamu nggak perlu turun langsung ke lapangan. Misalnya kalau bikin skripsi yang menggunakan data sekunder tentang “Analisis Tren Pariwisata di Bali”, kamu bisa ambil data dari BPS atau Kementerian Pariwisata tanpa harus survei ke setiap hotel.
  2. Cakupan Luas
    Data sekunder seringkali punya jangkauan yang lebih besar. Contohnya, kamu bisa dapat data sensus penduduk seluruh Indonesia yang jelas mustahil dikumpulkan sendiri untuk satu skripsi.
  3. Sumber Resmi dan Terverifikasi
    Kalau pakai sumber seperti BPS, WHO, atau World Bank, datanya biasanya sudah melalui proses verifikasi sehingga tingkat keakuratannya lebih tinggi.
  4. Memungkinkan Analisis Historis
    Dengan data yang sudah ada dari tahun-tahun sebelumnya, kamu bisa melakukan analisis tren, prediksi, atau perbandingan antar periode waktu.
  5. Akses Mudah
    Banyak sumber data sekunder skripsi yang tersedia gratis secara online, terutama di situs lembaga resmi atau repositori kampus.

Kelemahan Data Sekunder

  1. Tidak Selalu Sesuai Kebutuhan
    Kadang data yang ada nggak persis menjawab pertanyaan penelitianmu. Misalnya, data terakhir yang tersedia cuma sampai 2021, padahal kamu butuh sampai 2023.
  2. Kualitas dan Akurasi Bervariasi
    Meskipun banyak yang terpercaya, tetap ada kemungkinan data kurang akurat atau mengandung bias.
  3. Kurangnya Kendali atas Metode Pengumpulan Data
    Kamu nggak ikut terlibat dalam pengambilan data, jadi nggak bisa memastikan apakah metode yang dipakai sesuai dengan standar penelitianmu.
  4. Data Tidak Terbaru
    Untuk topik yang cepat berubah seperti teknologi atau tren ekonomi, data yang terlalu lama bisa bikin analisis jadi kurang relevan.
  5. Hak Cipta dan Lisensi
    Nggak semua data boleh digunakan bebas. Ada yang memerlukan izin atau pembelian lisensi, terutama untuk laporan industri.

Strategi Mengatasi Kelemahan

  1. Kombinasi dengan Data Primer
    Kalau data sekunder kurang lengkap, kamu bisa tambahkan dengan survei kecil atau wawancara singkat.
  2. Gunakan Beberapa Sumber
    Bandingkan data dari berbagai sumber untuk memastikan konsistensi.
  3. Jelaskan Keterbatasan di Skripsi
    Kalau ada kekurangan pada data, tulis di bagian “keterbatasan penelitian” supaya pembaca paham konteksnya.
  4. Periksa Tanggal Terbaru
    Selalu cek kapan data terakhir diperbarui. Untuk topik cepat berubah, pastikan datanya minimal dalam 2–3 tahun terakhir.
  5. Pastikan Legalitas Penggunaan Data
    Gunakan data yang jelas sumbernya dan bebas dari pelanggaran hak cipta.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top